Kurang lebih seperti itulah kalimat awal yang ditorehkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto dalam buku berisi curahan hatinya yang berjudul 'Kenapa Saya Mundur dari Wagub DKI Jakarta'. Buku berisi 88 halaman dan belum bersama lampiran-lampiran ini menceritakan uneg-uneg dari DKI-2 itu. Ini merupakan bukunya yang kedua dalam waktu sebulan. Pada Desember 2011, dia menelorkan buku "Andai Aku atau Anda Gubernur/Kepala Daerah".
“Saya mundur bukan karena tinggal gelanggang colong playu atau lari dari medan perang, atau lari dari medan perang, atau lari dari tanggung jawab, justru sebaliknya karena adanya rasa tanggung jawab dan martabat atau harga diri itulah saya mundur!“ tulis Prijanto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya tidak ingin duduk dalam suatu jabatan, digaji, diberi berbagai fasilitas, tetapi tidak bisa berbuat sesuatu secara maksimal sesuai jabatan saya,” tulisnya.
Ditulis dengan font besar, buku curahan hati Prijanto cukup enak untuk dibaca. Nada amarah atau penegasan ia tunjukkan dengan menebalkan dan menambahkan tanda seru pada tulisannya.
Masih dalam buku tersebut, Prijanto merinci beberapa peristiwa yang membuat hubungannya dengan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo semakin dingin. Dijelaskan di dalamnya 10 peristiwa yang membuatnya yakin pilihannya untuk mundur benar.
Namun pada intinya, satu alasan mendasar ia meletakkan jabatan itu karena harga diri. Harga diri bahwa merasa ia sudah tak dibutuhkan lagi untuk membangun Jakarta bersama pria berkumis, Fauzi Bowo atau Foke.
“Orang yang saya bantu tidak pernah ngajak ngomong. Saya telepon, tidak pernah membalas. Saya SMS tidak pernah direspons, pengaturan tugas tidak jelas. Semua itu saya rasakan,” keluh Prijanto.
“Harus saya maknai, Gubernur sudah tidak menghargai saya dan tidak suka atas bantuan saya,” tuturnya.
Seperti diketahui pada penghujung 2011, Prijanto mengungkapkan ingin mengundurkan diri. Namun rapat paripurna DPRD DKI Jakarta kemarin Rabu (25/1) yang sedianya akan membahas permintaan mundurnya, terpaksa ditunda karena tidak kuorum. 32 Anggota FPD yang tidak setuju pada pengunduran diri itu, tidak ada yang hadir. Nasib Prijanto pun "digantung". Jelas saja Prijanto kecewa berat. Sementara itu, Pemilukada DKI Jakarta akan digelar tahun ini.
(feb/nrl)











































