Hendardi: Peledakan di KPU Bukti Intelijen Tak Becus

Hendardi: Peledakan di KPU Bukti Intelijen Tak Becus

- detikNews
Rabu, 28 Jul 2004 07:31 WIB
Jakarta - Terjadinya aksi peledakan di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan ketidakbecusan intelijen yang kesekian kalinya, yakni tidak becus melakukan deteksi dini atas aksi teror yang berulang kali terjadi.Oleh karena itu, menurut Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Hendardi, Presiden Megawati tidak cukup hanya mengintruksikan Kapolri Jenderal Pol Da'i Bactiar untuk menangkap pelaku peledakan."Presiden harus melakukan tindakan tegas, terutama meminta Kapolri memberhentikan aparatnya yang bertanggungjawab di bidang intelijen. Presiden juga memberhentikan Kepala BIN yang bertanggungjawab atas koordinasi intelijen nasional," kata Hendardi.Hendardi, dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (28/7/2004), menyatakan mengharapkan aparat yang bertanggungjawab untuk mundur seperti di beberapa negara lain adalah kemustahilan. "Maka, pemberhentian adalah jalan yang harus ditempuh untuk perbaikan."Hendardi pun mengaku cemas atas fakta bahwa gedung KPU yang sedang jadi pusat penyelenggaraan pemilu presiden saja bisa disusupi teroris yang kemudian meletakan bahan peledak. "Secara pasti ini menunjukan kerja aparat intelijen yang lemah, tidak profesional, dan tidak berdaya."Penyebab lemahnya intelijen, menurut Hendardi, karena tidak pernah ada upaya sungguh-sungguh merombak visi dan orientasi kerja serta kepemimpinan intelijen kita. Visi, orientasi kerja, dan kepemimpinan intelijen, terutama BIN, masih seperti Orde Baru."Sehingga kemampuan yang ditunjukkan masih seputar mengintai, menyelidiki, propaganda negatif, dan memusuhi rakyat atau kelompok-kelompok masyarakat seperti LSM, mahasiswa, organisasi masyarakat, serta orang yang mengkritik Indonesia seperti Sidney Jones," demikian Hendardi. (gtp/)


Berita Terkait