Partisipasi Politik Rakyat Indonesia Terus Turun
Sabtu, 24 Jul 2004 16:59 WIB
Jakarta -
Jumlah golput pada pemilu presiden (pilpres) I lebih besar dibandingkan pemilu legislatif. Namun dibandingkan standar internasional, golput di Indonesia masih kecil.Demikian ditegaskan Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ramlan Surbakti kepada wartawan di Hotel Hilton, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (24/7/2004)."Pada pemilu legislatif, partisipasi pemilih mencapai 84 persen. Namun pada pilpres I, turun menjadi 70 persen. Hal ini terlihat dari jumlah warga yang datang ke TPS, rata-rata sekitar 20 persen pemilih tidak datang," ungkap Ramlan.Namun demikian, jika dikaitkan dengan standar internasional, jumlah golput di Indonesia relatif kecil. Di negara yang sistem demokrasinya lebih maju, partisipasi rakyat dalam pemilu hanya sekitar 60 persen."Kita kan tidak bisa memaksa warga untuk datang ke TPS-TPS. Kalau dia memutuskan untuk tidak memilih, ya itu hak mereka," tukas Ramlan.Meski demikian Ramlan tetap berharap, penurunan partisipasi rakyat ini tidak terjadi dalam pilpres II. Ramlan mengimbau, rakyat ramai-ramai menggunakan hak pilihnya."Kepada pendukung capres yang tidak lolos ke putaran kedua juga jangan tidak menggunakan hak pilihnya. Ini merupakan ujian bagi tingkat pematangan pemilih. Jika jagoannya kalah mereka bisa memilih terbaik kedua atau ketiga," tutur Ramlan.Dari 14 propinsi yang sudah direkapitulasi, jumlah golput tercatat paling banyak berada di Banten. Di propinsi ini, mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 1.163.950 orang. Jumla pemilih tetap di Banten tercatat 4.589.108 pemilih."Posisi kedua (golput) adalah Riau, dengan jumlah 774.420 orang. Sisanya berkisar antara 100 sampai 500 ribu orang perpropinsi," ungkap Ramlan.
(djo/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































