"Keluarga yang meminta (otopsi) dibawa ke RSCM untuk otopsi. Alasannya keluarga mencurigai adanya indikasi penganiayaan," ujar staf advokasi Migrant Care, Elly Anita, kepada detikcom, Minggu (8/1/2012).
Menurut Elly, dalam dua lembar surat yang dikirimkan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Subang, tidak tercantum penyebab kematian Tarlem binti Unus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Elly menambahkan, adanya indikasi kekerasan terhadap Tarlem yang dicurigai keluarga adalah dari komunikasi terakhir dengan sang suami.
Dari komunikasi 13 November lalu itu, sang Tarlem menyatakan kondisinya baik-baik saja, namun sikap majikan terlihat mulai berubah kepada Tarlem.
"Seperti komunikasi dengan suaminya mulai dibatasi dan gajinya mulai dipersulit," ujar Elly.
Sejak komunikasi itulah pihak keluarga tidak pernah mendapatkan kabar lagi dari Tarlem. Beberapa kali sang suami menghubungi istrinya tersebut namun nomor yang dihubunginya tidak pernah aktif.
"Suaminya lantas menghubungi PJTKI yang memberangkatkan Tarlem. Dari PJTKI menyampaikan kalau majikan Tarlem sedang ke luar negeri," ujarnya.
(ahy/gun)











































