"Kerusuhan di Pamekasan tidak bisa ditolerir. Tapi kita harus melihat akar masalahnya dan sekarang Kepolisian sedang melakukan pengusutan,"tegas Suryadharma.
Hal ini disampaikan Menag kepada wartawan usai acara penyerahan penghargaan kepada kepala daerah yang berjasa di bidang pendidikan Islam dalam rangka HUT ke-66 Kementerian Agama di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (2/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Segala macam bentuk kekerasan tidak bisa ditolerir. Kita mengutuk segala macam kekerasan, segala macam kekerasan bisa terjadi tapi untuk menyelesaian perbedaan, kekerasan bukan jawaan yang harus dilakukan tapi dengan dialog-dialog," imbau Suryadharma.
Ia berharap di tahun 2012 kekerasan terhadap umat beragama tidak lagi terjadi. "Ya kita ada forum kerukunan umat beragama, forum ini yang mesti mengendus kekerasan. Semoga di tahun 2012 ini bisa dieliminir kekerasan di masa yang akan datang," tandasnya.
Sebelumnya diberitakan pada Kamis (29/12) kemarin amuk massa dilakukan warga Dusun Nangkrenang Desa Karang Gayam Kecamatan Karang Penang, Sampang, Madura, dipicu penganut faham syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.
Pondok yang sudah berdiri sejak tahun 2006 itu tetap menyebarkan aliran agama yang sudah diyakini warga. Padahal menurut perjanjian sebelum puasa ramadan 2011 lalu, pihak pondok Syiah berjanji tidak akan menyebarkan agama yang dianggap fahamnya terlalu jauh dengan umat Islam.
Mabes Polri berpendapat pembakaran di Sampang, Madura, dipicu masalah keluarga. Hal ini dikarenakan kakak beradik, Rois dan Rojul, berbeda aliran agama.
"Dari hasil keterangan sementara bahwa terjadinya karena ada permasalahan di masalah keluarga," kata Kepala Divisi Humas (Kadiv) Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, dalam keterangan persnya di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (29/12/2011).
Saud meluruskan yang dibakar massa bukan sebuah pasantren melainkan tiga rumah dan satu musala.
(mad/van)











































