Seperti dikutip dari The Guardian, Senin (26/12/2011), Wati muncul di sebuah kafe di Meulaboh, Provinsi Aceh pada Rabu (21/12) lalu. Selama itu, Wati mencari keberadaan orangtuanya dengan hanya sedikit petunjuk.
Selama 7 tahun hilang, Wati hanya mengingat nama kakeknya, Ibrahim. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seseorang di kafe tersebut yang kemudian melacak
nama Ibrahim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tangis bahagia mewarnai pertemuan Wati dan kedua orangtuanya. Yusniar sendiri yakin bahwa Wati adalah anak kandungnya dan menolak untuk melakukan tes DNA.
"Dia memiliki wajah ayahnya," katan Yusniar.
Tanda-tanda lahir yang ada di beberapa bagian tubuh Wati semakin meyakinkan Yusniar bahwa Wati adalah putrinya yang selama ini hilang.
"Ada bekas luka di atas mata dan tahi lalat di pinggulnya, dan aku bahkan lebih yakin," imbuhnya.
Wati hilang saat tsunami menyapu Aceh pada 2004 lalu. Saat itu, ia ingat ketika ayahnya meletakkannya ke dalam sebuah perahu bersama adiknya, yang masih hilang dan diperkirakan meninggal. Sang ayah mengatakan bahwa sebelum keluarga itu dipisahkan, ia meletakkan kedua putrinya di atap rumah mereka.
Namun, gelombang tinggi tsunami rupanya menyapu Wati dan adiknya menjauh dari kedua orangtuanya. Meski begitu, Wati ternyata selamat dan diadopsi oleh seorang wanita yang memaksanya untuk mengemis di jalanan hingga pukul 01.00 dini hari.
Wati mengungkapkan, dirinya kerap dianiaya wanita tersebut bila tidak membawa uang. Wati ditendang oleh wanita itu.
(mei/mpr)










































