"Silahkan bikin optimisme dan keyakinan ke masyarakat, tapi Abraham harus koreksi ke dalam (internal KPK)," kata peneliti ICW Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan, Donal Faris, kepada detikcom, Senin (19/12/2011).
Koreksi itu, tambah Donal, agar pimpinan KPK yang baru mengenal kondisi internal. Dengan begitu, KPK akan lebih mengetahui kelemahan dan kekuatan lembaganya sebelum melakukan serangkaian target-target tertentu. ICW mensinyalir masih ada tekanan psikologis terhadap penyidik KPK yang berasal dari kepolisian dalam kasus-kasus tertentu. Ini yang membuat mereka kadang ragu untuk melangkah maju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, pimpinan KPK harus memahami kegamangan di level penyidik itu. Ada kalanya Abraham harus lebih fokus dulu untuk menakar kekuatan KPK," lanjutnya.
Sebelumnya diberitakan, ketua KPK Abraham Samad membuat terapi menggebrak saat pertama kali ngantor di KPK. "Hidup KPK, gantung koruptor!" serunya yang disambut riuh tepuk tangan para karyawan, Senin (19/12) sore. Hal itu diserukannya saat berpidato di depan pegawai KPK dalam acara Pisah Sambut antara para pimpinan baru dan pimpinan lama.
Sementara di hari yang sama, pembantaran tersangka cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI), Nunun Nurbaeti, telah dicabut lantaran kondisi kesehatannya yang semakin membaik. Hal itu seolah menjawab teriakan Abraham Samad untuk segera membuktikannya.
(rdf/rdf)











































