Saksi Dengar Teriakan 'Pakai Otak' dari Ruangan Tempat Irzen Octa

Saksi Dengar Teriakan 'Pakai Otak' dari Ruangan Tempat Irzen Octa

- detikNews
Selasa, 13 Des 2011 18:56 WIB
Jakarta - Sidang dugaan penganiaya terhadap nasabah Citibank, Irzen Octa dengan terdakwa Boy Tambunan dan Humisar Silalahi kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada persidangan kali ini, saksi yang dihadirkan adalah sekuriti Citibank Slamet Raharjo dan pegawai Citibank Zulkifli.

Dalam kesaksiannya, Slamet Rahardjo mengatakan sempat mendengar ada teriakan 'pakai otak' dari ruangan cleo yang berada di lantai 5 Menara Jamsostek. Di dalam ruangan itu sebelumnya, Slamet sempat melihat keberadaan almarhum bersama beberapa orang.

"Saya kebetulan diperbantukan di lantai 5. Saya berjaga di depan pintu masuk karyawan," katanya di PN Jakarta Selatan, Selasa (13/12/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Slamet pun lantas menceritakan apa yang diketahui. Menurutnya, sebelum melihat tubuh Irzen terbujur kaku, dia sempat bertemu Irzen.

"Saya bertemu dia pada pukul 10.30 WIB. Ketemunya pas saya buka lift barang, korban gedor-gedor pintu," ceritanya.

Entah perdebatan apa yang terjadi antara Irzen dan beberapa orang di dalam ruang cleo tersebut, tiba-tiba dari dalam terdengar perkataan 'pakai otak' dengan nada meninggi.

"Karena mendengar ucapan itu saya mendekat, dan melihat saat itu 4 orang di sana. Ada pegawai Citibank yang sedang menelopon dan Pak Irzen yang duduk di pojok. Tapi saya tidak melihat Pak Boy di sana. Saat itu juga tidak ada pemukulan, tunjuk-tunjukan, dan tidak ada gebrak-gebrak meja. Saya juga nggak tahu soal kegiatan negosiasi di ruangan itu," katanya.

Tidak lama berselang setelah terdengar teriakan kalimat itu, Slamet mengaku mendapatkan kabar dari seorang karyawan Citibank bernama Sugeng bahwa ada customer yang pingsan di ruangan cleo. Mendapatkan kabar itu, ia pun melongok masuk ke dalam ruangan.

"Saya lihat posisi Pak Irzen kakinya di bawah kolong meja. Dia dalam keadaan terbaring. Lalu saya mendekat dan saya dengar dia ngorok dengan suara yang besar tapi tidak bergerak," tambah pria yang mengenakan jaket hitam ini.

Langkah utama yang dilakukan Slamet setelah itu adalah menghubungi atasannya. Setelah itu ia tidak tahu lagi apa yang terjadi termasuk jam berapa dan lewat mana Irzen dibopong ke luar gedung untuk dibawa ke rumah sakit.

"Saya telepon komandan saya, selamat siang ndan segera merapat ke lantai 5 ada yg pingsan. Setelah itu saya kembali jaga di pintu depan, gak lama saya istirahat makan siang," paparnya.

Kejadian itu ia perkirakan sebelum istirahat makan siang. Karena usai makan siang saat ia kembali berjaga situasi di lantai 5 yang semula banyak kerumunan orang sudah kembali normal.

"Saya nggak lihat kapan keluar dari ruangan, karena lagi ramai," jelasnya.

Dia juga memastikan ruangan cleo itu terpasang gorden. Saat kejadian, ia sempat melihat gorden dalam keadaan terbuka sebagian.

Saksi berikutnya Zulkifli juga menjelaskan, saat mendapati kabar adanya customer yang pingsan dia langsung bergegas ke ruangn Cleo. Saat tiba di ruangan dia melihat beberapa orang yaitu Boy dan Arif juga Irzen yang dalam keadaan duduk dan ngorok.

"Saya lihat kejadiannya sekitar jam 13.15 WIB, saya datang ke ruangan sudah ada Boy, Arif dan banyak lagi. Sedangkan Pak Irzen dalam posisi duduk dan bersandar ke dinding," ceritanya.

Lalu Zulkifli meminta agar Irzen dibaringkan dan diberikan bantal. Dia juga mengaku sempat memegang denyut nadi Irzen.

"Waktu itu masih berdenyut, wajahnya penuh keringat banyak dan air liur nya juga keluar, lalu dia bernafas ngarok, setelah ditidurkan saya suruh bawa ke rumah sakit, dan saat itu saya tidak ikut mengantarkan," jelas Zulkifli.

(lia/ndr)


Berita Terkait