Kemacetan di Kuta dianggap memperburuk iklim wisata di Bali. Seorang warga Amerika Serikat bernama Radu Frentiu yang bekerja sebagai General Manager di sebuah hotel di kawasan Legian Kuta mengatakan kerap mendapat keluhan dari wisatawan yang menginap di hotelnya.
"Tamu sering mengeluh dengan kemacetan lalu lintas yang sangat buruk," katanya, Senin (12/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga disampaikan warga Malaysia bernama Huzni Muit yang bekerja di salah satu villa di Kuta.
Ia juga mengeluhkan kemacetan yang semakin parah khususnya di kawasan Kuta dan sekitarnya. "Kemacetan di Kuta sudah sangat parah," keluhnya.
Mereka khawatir kemacetan akan mengurangi tingkat kunjungan wisatawan ke Bali. Mereka berharap pemerintah segera mencari solusi mengatasi kemacetan.
Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali (AMPB) Gusti Kade Sutawa menilai kemacetan di Kuta adalah masalah klasik yang harus segera diatasi. "Perbaiki sistem transportasi publik dan bangun infrastruktur," katanya.
Mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas yang semakin parah ini, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) VIII Ir Susalit Alius menyatakan akan membangun jalan bawah tanah atau underpass di sekitar simpang Dewa Ruci Kuta pada akhir tahun 2011.
Proyek jalan bawah tanah yang menelan biaya Rp 179 milyar ini akan dikerjakan selama 18 bulan. Jalan bawah tanah di patung Dewa Ruci sepanjang 800 meter, lebar 18 meter, dan tinggi 5,2 meter.
"Selama proyek underpass, pengguna jalan akan sedikit terganggu. Kami berharap warga masyarakat yang melintas di jalan tersebut untuk memakluminya," katanya.
(gah/gah)











































