Sabar, Modal Menembus Taman Surga

Laporan dari Arab Saudi

Sabar, Modal Menembus Taman Surga

- detikNews
Jumat, 09 Des 2011 22:38 WIB
Sabar, Modal Menembus Taman Surga
Madinah - Lia izin tidak bertugas hari itu. Wajahnya memerah menahan demam tinggi.

"Mungkin karena kelelahan," katanya. Lelah memang wajar menerpa petugas Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) 2011 dari unsur tenaga musiman (temus) itu. Tugasnya berjaga di raudlah atau "taman surga" di Masjid Nabawi, Madinah, membuatnya harus selalu berdiri guna mengatur jamaah dari rumpun Melayu. "Saya sering ditabrak-tabrak," kata perempuan mungil yang menetap di Jeddah ini.

Penabrak Lia tak lain adalah jamaah haji perempuan yang berebutan memasuki raudlah, tempat mustajab untuk berdoa. Menghadapi senggolan, tabrakan, hingga omelan jamaah yang tak sabar adalalah makanan sehari-hari Lia, bersama dua rekannya, Sunarya dan Aisyah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

***

Kamis 6 Desember 2011 selepas zuhur. Sebagian jamaah perempuan bubar dan menuju ke titik tertentu di Masjid Nabawi. Seorang askar (penjaga) wanita berbaju hitam serba longgar (abaya) berteriak-teriak,"Arab! Arab!" Dia memanggil jamaah dari jazirah Arab. Seorang askar lainnya membawa tulisan besar berhuruf Turki. Askar lainnya membawa tulisan Bahasa Malayu.

Para askar itu mengundang jamaah yang bermaksud ziarah ke taman surga. Jamaah dikelompokkan berdasar rumpun bangsanya.

Para calon peziarah lalu duduk di kelompok-kelompok rumpun itu. Di seksi Melayu, terkumpul jamaah Indonesia dan Malaysia. Thailand biasanya juga masuk sini, tapi siang ini mereka sudah tak terlihat.

Di sebelah kiri jamaah Indonesia, terdapat rombongan dari rumpun Asia Selatan (India, Pakistan, Afghanistan). Di sebelahnya barisan jamaah yang duduk di kursi roda. Sedang di sebelah kanan jamaah Indonesia, terdapat kelompok dari negara-negara lain. Pengaturan ini dilakukan sejak tahun lalu setelah seorang jamaah wanita terinjak-injak karena berebutan masuk raudlah. Bahkan untuk mengantisipasi kericuhan di sini, tahun ini Indonesia menugaskan 3 wanita untuk membantu mengawal jamaah kita yaitu Sunarya, Aisyah dan Lia, yang semuanya selama ini bermukim di Jeddah.

Di sinilah jamaah Melayu mendapat ceramah dari askar ber-ID warna hijau. Askar itu mengenakan abaya, hanya terlihat kedua matanya. Askar itu berceramah tentang keutamaan raudlah dan adab memasukinya atau di dalamnya. Ceramah disampaikan dalam bahasa Indonesia yang fasih. Menurut Sunarya, penceramah itu berasal dari Padang dan telah menetap lama di Saudi.

Setelah berkumpul di seksi ini, sedikitnya setengah jam kemudian, kontingen jamaah Melayu diminta berpindah ke "ruang penampungan" lain di dekat raudlah.

Namun meski telah diatur sedemikian rupa per rumpun, tetap saja di sana-sini ada jamaah yang tidak tertib. Ada yang berlarian, bergandengan tangan sehingga sulit ditembus, bersikeras menerobos dll.

"Rapat Bu, rapat, biar tidak dimasuki jamaah negara lain," kata Sunarya yang mengawal jamaah Melayu yang semuanya telah duduk. Jamaah India telah memasuki bagian pinggir wilayah Melayu. Mereka berusaha menerobos maju. Sunarya mempertahankan barisan Melayu, menolak "lobi" jamaah India, dengan sesekali berkata,"Maafii! Maafii! (Tidak ada!)"

Raudlah berada di dalam Masjid Nabawi yang letaknya ditandai dengan tiang-tiang putih dan ornamen cantik, peninggalan dinasti Ottoman. Dari luar, Raudlah terletak di bawah kubah warna hijau, yang merupakan ciri khas Masjid Nabawi.

Raudlah berada di antara rumah Siti Aisyah (sekarang makam Rasulullah) sampai mimbar Nabi Muhammad. Raudlah memiliki luas 330 meter persegi. Panjangnya dari arah timur ke barat 22 meter dan dari utara ke selatan 15 meter. Kompleks ini juga terdapat makam Rasul bersama dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Sedang makam Siti Aisyah terletak di Baqi.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah dinyatakan bahwa Rasullah bersabda 'Di antara rumah dan mimbarku adalah taman (raudlah) dari taman-taman surga dan mimbarku adalah telagaku".

Perawi hadis Ibn Hajar berpendapat ibadah yang dilakukan di raudlah akan membawa si pendoa masuk surga.

Karena keutamaan ini, raudlah menjadi tempat favorit jamaah lelaki maupun wanita. Khusus untuk wanita, ada pengaturan jam masuk yaitu usai salat subuh, usai salat zuhur dan usai salat isya.

Chusnul, jamaah dari embarkasi Surabaya punya tips untuk memasuki raudlah, yaitu sabar. Ibu separo baya itu dengan tenang menanti aba-aba askar untuk maju ke raudlah. Ini adalah kali keenam kunjungannya ke taman surga di dunia itu.

"Yang penting sabar, pasti dapat tempat. Sabar menunggu jamaah salat atau doa, lalu kita maju, gantian salat. Tidak usah saling menyakiti sesama jamaah," ujar Chusnul. Tips lainnya, dia pergi ke raudlah seorang diri. "Kalau berombongan susah," katanya. Dengan demikian, menjadi jamaah mandiri adalah keuntungan tersendiri. Mandiri beribadah, tanpa khawatir tersesat jalan.

Karena kesabarannya, Chusnul bisa lebih dari sekali salat dua rakaat di raudlah. "Kalau diminta pergi askar, saya ya pergi. Sambil jalan, ada tempat yang kosong, terus salat lagi," ujarnya.

Seorang jamaah dari Kupang juga punya trik sendiri. "Setiap mau ke raudlah, saya salat hajat 2 rakaat dulu. Memohon agar dimudahkan," katanya. Hasilnya, dia selalu bisa salat di taman surga yang bercirikan karpet hijau itu. (Karpet di Masjid Nabawi lainnya berwarna merah). Kali ini adalah kunjungannya yang kelima. Sebagaimana Chusnul, dia juga ke raudlah sendiri, tanpa perlu berombongan.

Pergi berombongan membuat sulit menembus raudlah karena jamaah terpaksa saling tunggu. Di raudlah, juga terdapat tulisan warning agar jamaah bersabar dalam berbagai bahasa utama, termasuk bahasa Indonesia. Tulisan itu dipasang pada 2010 lalu. Bunyinya adalah: "Saudara-saudara kaum muslimin, jangan memaksakan diri dan menyakit sesama pada saat masuk ke raudhah dengan saling mendorong dan berdesak-desakan. Tunggulah giliran. Dengan izin Allah masih banyak waktu untuk anda dapat memasuki raudhah dan melaksanakan salat di dalamnya".

Pengaturan ketat seperti ini, tidak berlaku di kalangan jamaah pria. Jamaah pria bebas keluar-masuk raudlah di luar jam jamaah wanita, tidak ada pengelompokan berdasarkan rumpun bangsa. Tak perlu juga petugas tambahan seperti Lia, Sunarya dan Aisyah.

Jamaah haji di Madinah saat ini telah berkurang drastis. Jamaah Indonesia yang selalu mendominasi saja tinggal 16 kloter. Meski Masjid Nabawi telah mulai lengang, namun kunjungan ke taman surga tetap harus penuh perjuangan.


(nrl/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads