"Motivasi pilihan publik terhadap partai maupun kandidat presiden akan mengalami perubahan di 2014. Publik akan mulai menyeleksi calon presiden yang mempunyai ide dan program yang sesuai dengan keinginan publik. Saya kira pertarungan isu akan menguat di 2014," kata analis politik Charta Politika Arya Fernandes kepada detikcom, Sabtu (3/12/2011).
Arya mencontohkan, situasi Pemilu 1999, 2004, dan 2009 akan berbeda dengan situasi 2014. Bila di 1999, faktor pilihan publik terhadap partai dipengaruhi oleh kharisma tokoh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arya menambahkan, pesona capres ini juga berlangsung pada Pemilu 2004. Sejak Indonesia melaksanakan pemilihan presiden secara langsung pada 2004 pilihan publik terhadap calon presiden dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan dan kharisma personal kandidat.
"Sementara Pemilu 2009 yang lebih dipengaruhi oleh performa kabinet dan evaluasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Kinerja ekonomi nasional yang positif menjelang Pemilu 2009 menguntungkan Partai Demokrat dan SBY," tutur Arya.
Bagaimana di 2014? Menurut Arya, jika menjelang 2014 perfoma dan kinerja kurang memuaskan dan situasi ekonomi juga tidak mengembirakan, publik akan memberi hukuman bagi Demokrat.
"Saya kira pertarungan isu dan gagasan akan mewarnai kampanye di 2014. Publik akan menyeleksi program kandidat mana yang dekat dengan keinginan publik. Meskipun daya tarik personal pemimpin masih mempengaruhi pilihan publik tapi prediksi saya publik akan memberi perhatian yang luar biasa terhadap kebijakan capres terutama dalam bidang ekonomi," kata Arya.
(mpr/feb)











































