"Untuk kasus pulsa kita masih mengumpulkan alat bukti, khususnya ini kan menyangkut kecanggihan dan keahlian teknologi. Untuk mencari barang buktinya, untuk mengetahui siapa yang terlibat, itu memerlukan keahlian khusus," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Saut Usman Nasution di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2011).
Untuk memudahkan dalam pengungkapan kasus ini, Mabes Polri bekerja sama dengan tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan beberapa pakar IT di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saut menyebut, kasus ini berbeda dengan kasus pencurian biasa yang mudah dicari alat buktinya. "Kalau ini kan di dunia maya, ini memang sulit," kata Saut.
Saut menambahkan, penyelesaian kasus penipuan pulsa tidak semudah seperti yang dibicarakan, apalagi ada data-data yang kemungkinan telah terhapus.
"Dan tidak disimpan oleh provider dan tidak semua tersimpan di sana. Ini kan data banyak. Jadi hanya sebagian yang disimpan, mereka terbatas, untuk mencari alat bukti susah. Perlu suatu keahlian untuk menggali dan mencari alat bukti," jelasnya.
(fiq/irw)











































