Sebuah rumah toko yang memasang atribut Organisasi Papua Merdeka (OPM) muncul di Amsterdam, Belanda. KBRI di Den Haag terus melakukan pemantauan, meski tak bisa berbuat banyak karena perbedaan aturan hukum.
"Pada pokoknya KBRI di Den Haag terus memantau kegiatan-kegiatan kelompok-kelompok separatis yang berada di Belanda," kata Juru Bicara Kemenlu, Michael Tene, kepada detikcom, Selasa (22/11/2011).
Menurut Tene, toko itu juga sudah diketahui oleh pihak KBRI. Berbagai upaya pengawasan pun terus dilakukan guna mengantisipasi aksi-aksi yang bisa merugikan persatuan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hukum yang berlaku kan hukum Belanda," katanya.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah atribut OPM beredar di sebuah etalase toko di Amsterdam, Belanda. Tidak hanya atribut, toko ini pun menampung donasi dari berbagai pihak untuk mendukung kegiatan OPM di luar negeri.
Cerita ini disampaikan staf khusus Gubernur Sulut Bidang Investasi, Jackson Kumaat yang kebetulan tengah berada di Negeri Kincir Angin tersebut. Jackson menceritakan, atribut-atribut yang ia lihat ini berada di sebuah bangunan ruko beralamat di Filiaal 0024 Kalverstraat 71 Amsterdam Belanda.
"Bagi sebagian besar warga Belanda yang tinggal di Belanda, kebebasan berekspresi dan pluralisme merupakan sikap yang dijunjung. Tapi bagi saya, pemasangan bendera OPM di sebuah bangunan ruko di Filiaal 0024 Kalverstraat 71 Amsterdam Belanda ini, merupakan ‘sinyal bahaya’ dalam menjaga keutuhan NKRI," jelas Jackson dalam surat elektroniknya ke detikcom, Senin (21/11) kemarin.
Di toko itu, Jackson melihat berbagai atribut Papua Merdeka. Mulai dari bendera, spanduk, poster, cindera mata dan foto-foto yang mengisahkan perjalanan menuju kemerdekaan Papua.
Toko tersebut, jelas Jackson, mirip sebuah kantor LSM. Bukan hanya menampilkan atribut-atribut OPM, ruko ini juga menerima donasi atau sumbangan bagi kegiatan lobi Papua Merdeka di luar negeri, khususnya di Belanda.
(mad/gun)











































