Di Solo, Bukan Tidak Mungkin Pencoblos Ganda Berniat Golput
Rabu, 14 Jul 2004 18:51 WIB
Solo -
Rekapitulasi penghitungan suara pilpres di Kota Solo disahkan hari ini, Rabu (14/7/2004). KPU Kota Solo mengaku tidak tahu jumlah pasti surat suara yang dicoblos ganda yang dinyatakan sah menurut Surat Edaran KPU Pusat. Padahal bukan tidak mungkin pelaku coblos ganda sengaja merusaknya dengan niatan menjadi golput.Hasil akhirnya, Megawati menang telak di daerah basis pendukungnya itu dengan 122.841 suara, disusul SBY 82.867 suara. Meskipun asli wong Solo Amien dan Wiranto hanya di posisi ketiga dan keempat dengan 72.333 dan 28.022 suara. Hamzah Haz hanya mampu meraup 2.119 suara. Dinyatakan tidak sah sejumlah 5.603 suara, sedangkan yang tidak mencoblos 75.345 suara. Yang menarik untuk dicatat adalah surat suara yang dicoblos ganda atau yang tidak dibuka lebar-lebar saat pencoblosan sehingga mengenai bagian lain selain kolom gambar pasangan capres dan cawapres. Semula, dengan mengacu pada UU yang berlaku, surat suara itu dianggap tidak sah oleh KPPS saat penghitungan suara.Namun karena banyak surat suara yang dicoblos dengan cara demikian, lalu KPU Pusat mengeluarkan Surat Edaran bahwa surat suara yang dicoblos dengan cara demikian dinyatakan sah. KPPS yang sudah terlanjur menyatakan tidak sah, diinstruksikan untuk menghitung ulang.Namun berapa jumlah surat suara yang dicoblos ganda, KPU Kota Solo mengaku tidak mengetahui secara pasti. Anggota KPU Kota Solo yang membidangi penghitungan suara, Wiranto, mengatakan pihaknya tidak lagi memilah suara yang ada dengan lebih spesifik yang dicoblos dengan benar dan yang dicoblos ganda. "Sudah tidak terdeteksi lagi," terangnya singkat.Padahal bukan tidak mungkin coblosan ganda itu dilakukan oleh pemilih dengan maksud merusaknya. Setidaknya sudah ada tiga warga Solo mengaku demikian kepada detikcom. Ketiganya mengaku sejak awal memang telah berniat golput dan mereka beranggapan jika ada coblosan di luar kotak gambar capres dan cawapres maka surat suara itu akan dianggap rusak."Saya mencoblos asal saja, tanpa membuka lipatannya. Saya coblos pada salah satu gambar calon tapi sengaja saya tembuskan lipatan di bawahnya (lipatan horinsontal -red), karena saya pikir dengan demikian akan dinyatakan tidak sah," papar seorang mahasiswi di Solo kepada detikcom yang tidak mau disebut namanya sambil memperagakan cara dia mencoblos.Seorang warga di Solo lainnya, juga mengaku demikian. Alasan dia karena tidak ada pilihan yang menurutnya pas untuk dipilih. Dia sengaja mencoblos dengan menembuskan bagian lain. "Karena saya melihat sosialisasi KPU di televisi itu disebutkan kalau ada coblosan di luar kotak gambar dinyatakan tidak sah kok," paparnya.Seorang warga lainnya bahkan mencoblosnya dari bagian muka, yakni mencoblos dari lipatan depan yang bergambar logo KPU, sehingga dia tidak tahu gambar pasangan capres dan cawapres mana yang tertembus oleh tusukan pakunya. "Saya jadi bingung dan sekaligus tertawa ketika diberitahu bahwa cara itu dinyatakan sah," kata pemuda warga Kalurahan Pajang, Solo, tersebut.Tidak Berani GugatMeskipun merasa dirugikan aspirasi politiknya oleh KPU, namun ketiga warga Solo itu mengaku tidak akan melakukan gugatan. Mereka mengaku sejak awal sudah enggan berurusan dengan penyelenggara pilpres. Namun yang pasti bagi mereka adalah tidak bermaksud memilih siapapun dari kelima pasangan itu."Kalau ada pasangan tidak layak, baik secara kemampuan maupun secara moral, yang diuntungkan oleh suara saya sehingga pasangan itu lolos dan kemudian terpilih sebagai presiden maka bukan saya yang memilih. Dosanya biar ditanggung KPU karena mereka yang merekayasa perolehan suara, setidaknya satu suara dari saya," kata si mahasiswi dengan nada datar.Dua lainnya juga enggan berurusan dengan KPU. Bahkan ada yang khawatir pada keamanannya. "Apa ada jaminan keamanannya. Memang itu hak saya karena dirugikan. Tapi kalau dengan gugatan itu kemudian saya menerima kesulitan, apa ada yang mau melindungi saya. Apa juga ada yang akan mengganti kerugian saya tidak bekerja selama dalam urusan yang tidak jelas itu," tukas si pemuda.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































