Jadi Capres Dini, Tak Jamin Elektabilitas Ical Naik

Jadi Capres Dini, Tak Jamin Elektabilitas Ical Naik

- detikNews
Minggu, 30 Okt 2011 18:20 WIB
Jadi Capres Dini, Tak Jamin Elektabilitas Ical Naik
Jakarta - Mengusung capres dini tak ubahnya mencuri start kampanye pilpres. Namun, kesempatan melakukan sosialisasi teroganisir lebih awal dan lama, bukan jaminan terdongkraknya popularitas dan elektabilitas Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie pada Pilpres 2014. Dua capres dini Partai Golkar, terbukti gagal.

"Tidak ada jaminan mencuri start kampanye akan berkorelasi positif terhadap elektabilitas seorang capres dini," ujar Burhanudin Muhtadi, pengamat politik dari UIN Jakarta, Minggu (30/10/2011).

Bukti nyata tidak adanya jaminan terdongkraknya elektabilitas capres dini, adalah nasib Wiranto dan Jusuf Kalla yang diusung Partai Golkar dalam dua pilpres terakhir. Jauh sebelum terpilih dalam konvensi Partai Golkar untuk Pilpres 2004, Wiranto sejak dini membangun citranya sebagai seorang bakal capres.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terpilih dalam konvensi, memberi peluang kepada Wiranto yang menggandeng Solahuddin Wahid sebagai cawapres melakukan sosialisasi yang lebih massif. Namun ternyata itu tidak banyak pengaruhnya terhadap perolehan suara pasangan Wiranto-Gus Solah dalam Pilpres 2004.

Pilpres 2009 juga menjadi merupakan pelajaran. Ketika itu Jusuf Kalla (JK) juga diajukan secara dini oleh Partai Golkar sebagai capres yang kemudian berpasangan dengan Wiranto sebagai cawapresnya. Namun perolehan suara pasangan tersebut juga tidak bersaing cukup ketat dengan SBY-Boediono.

Pengalaman buruk dua capres dini di atas, tidak lepas dari pergolakan internal parpol yang mengusungnya. Setiap kali menjelang pilpres, selalu terjadi friksi tajam antar elit politisi Partai Golkar.

"Akibat friksi internal, Akbar Tandjung menggelar konvensi untuk Pilpres 2004. Pecapresan JK, juga membuat beberapa elit Golkar mendukung SBY-Boediono," papar Burhanudin Muhtadi.

(lh/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads