Muhyidin, saksi mata mengatakan, sejak Selasa (25/10/2011) pagi, ratusan warga sudah memblokir satu-satunya akses jalan kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Woja dengan Dompu, ibukota Kabupaten Dompu. Warga menebang empat pohon besar, dan membiarkannya melintang di tengah jalan.
Menurut Muhyidin, setiap pengendara yang hendak melintasi jalan diperintahkan warga kembali. Tak satupun pengendara dibiarkan lewat, meski menggunakan sepeda motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Blokir jalan itu juga menyebabkan satu SMP dan tujuh SD yang berada di dua desa itu diliburkan. Guru-guru sekolah rupanya ikut dihadang warga, sehingga tidak bisa mengajar.
"Tadi anak-anak sekolah pulang cepat. Masih pagi sudah pulang. Katanya tidak ada gurunya yang masuk sekolah, karena dihadang warga," kata Muhyidin.
Di antara sekolah yang diliburkan itu adalah SMPN 5 Woja, yang terletak empat kilometer arah barat lokasi pemblokiran jalan. Sebagian besar guru di SMPN 5 Woja dan tujuh SD yang ada di sepanjang akses jalan itu, bermukim di Kota Dompu.
"Kalau tujuh SD lain tersebar di dua desa sepanjang akses jalan yang di blokir itu," kata Muhyidin.
Warga memblokir jalan, untuk menuntut perbaikan sebuah waduk di Desa Mumbu yang ambrol akibat banjir Januari lalu. Warga mengatakan, 1.500 hektar sawah di dua desa bergantung pada pasokan air dari waduk itu.
Namun hingga kini waduk tidak kunjung diperbaiki pemerintah. Sementara di sisi lain, hujan sudah mulai turun di Dompu, dan warga tengah bersiap-siap menggarap sawah untuk menanam padi.
(fay/fay)











































