"Saya sudah tahu, setelah membunuh pasti saya ditangkap. Oleh karena itu saya slow tetap masuk kerja. Terus saya pikir nanti juga ketangkaplah," kata Rahmat di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (24/10/2011).
Rahmat mengaku memang sudah merencakan pembunuhan Hertati dan anaknya selama 2 minggu sebelum malam pembunuhan. Berikut pengakuan Rahmat dalam wawancara dengan wartawan:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibakar memang. Dicipratin bensin.
Rencananya memang dia saja yang dibakar?
Ya.
Kenapa?
Karena saya pikir muka dia gampang dikenali. Ibunya tidak. Saya tidak kepikiran foto ibunya bakal ditaruh di TV. Nggak kepikiran saya. Saya kepikiran yang anak ini.
Saya pikir Hertati bisa saja orang banyak mirip dia. Kalau ER gampang sekali dikenali. Mulai gigi, ininya, ininya. Si Kris juga belum pulang waktu ER saya bakar.
Terus habis itu pulang sama-sama dengan Kris?
Nggak. Orang dia yang bantuin nyiapin tali. Nyiapin tali buat mengikat ke motor itu.
Kris pulang kapan?
Pas dia mau masuk kerja.
Kerja pagi?
Ya.
Kris tidak membantu memasukkan ke kopor dan kardus?
Nggak.
Menaikkan ke motor sendiri juga?
Ya. Si Kris cuma bantuin ngedekatin ke motor.
Itu motor siapa bang?
Motor saya. Suzuki Smash.
Abang orang Lampung kan?
Ya. Orang Lampung.
Merantau ke Jakarta tahun berapa?
Orangtua saya yang laki-laki orang Sulawesi tapi cerai. Sebelum bercerai saya di Banjar Sari. Setelah bercerai, saya diambil Bapak saya ke Sulawesi. Adik saya tiga tahunan. Dewasa, 2007 saya ke Jakarta.
Kerja di sana tahun berapa?
2009.
Apa yang dilakukan pada 2007-2009?
Nganggur.
Kamu lulusan SMA? SMA-nya mana?
Makassar. SMP di Makassar
Ke Lampungnya kapan?
2009 juga. Kenal juga sama Hertati.
Ke Lampung ngapain?
Silaturahim, mau Lebaran. Seminggu sebelum Lebaran. Ya ada keluarga dari ibu di sana.
Bisa naksir Hertati bagaimana ceritanya?
Pertama saya nggak gini. Dia SMS saya.
Jangan-jangan Hertati ke Jakarta karena mau ikut kamu?
Ya.
Awalnya bagaimana bisa suka Hertati?
Saya punya teman Nanang. Teman dari kecil. Nanang ajak saya ke rumah Mbak Tati. Saya ikut. Di situ, oh ini namanya Hertati. Saya pulang. Hertati minta nomor saya ke Nanang, dikasih. Telepon-telepon dan misscall. Hertati masih di Lampung.
Pulang ke Lampung berapa kali?
Sebulan sekali, nanti ketemu lagi.
Hertati ke Jakarta meningalkan suami gara-gara kamu?
Ya. Gara-gara saya. Terus dia cekcok pisah ranjang. Pernah dianiaya juga. Dia sempat curhat juga.
Jadi 2009 sekali-kali suka ke Lampung tinggal di Jakarta? Dapat kerjaan baru 2009. Apa yang dilakukan pada 2007-2009?
Di rumah saja. Nganggur. Kalau ada yang mau cat rumah saya bantu cat.
Tinggal sama siapa?
Sama orangtua.
Tapi satu saja orangtuanya?
Dua. Sekarang sudah ada bapak tiri. Sama ibu asli.
Bapak tiri di Jakarta?
Ya.
Sekarang keluarga sudah tahu semua?
Pasti tahu. Karena di koran dan surat kabar sudah ada semua.
Kamu bisa dihukum mati lho. Siap?
Siap. Makanya waktu itu kalau saya tidak siap, waktu saya di pabrik mending kabur. Saya tahu saya salah. Coba saja kalau lihat pabrik. Ujung, depan, belakang. Saya tinggal loncat bisa kabur.
Kerja di Sunter?
Ya. Sudah yakin bakal ditangkap, sudah yakin bakal dihukum.
Jadi siap?
Ya saya siap. Saya kalau mau kabur Pak, bisa. Ujung sana saya bisa. Langsung tembok. Bisa lari. Naik ojek. Di sana bisa. Di situ ada pohon beringin.
Berapa gaji sebulan?
Kurang lebih Rp 1,4 juta. Kalau sama makan dan transport bisa dapat Rp 2,7 - 2,8 juta.
Bukankah gajinya besar?
Kalau kurang ya Rp 2,4 juta.
Kenapa dari awal berencana membunuh? Kan banyak pilihan lain?
Saya hanya mikir ke situ.
Kenapa mikirnya membunuh?
Nggak tahu ya. Saya pikirnya bunuh.
Padahal kalau membunuh kan bisa dihukum kalau ditangkap?
Saya tahunya habis membunuh. Saya masuk kerja lagi kan. Kalau orang lain kan langsung kabur. Saya sudah tahu, setelah membunuh pasti saya ditangkap. Oleh karena itu saya slow tetap masuk kerja. Terus saya pikir nanti juga ketangkaplah.
Sudah tahu bakal ketangkap?
Sudah. Makanya saya ngomong ke bapak-bapak itu pas di pabrik. Nih ada yang mau datang nih. Pukul 07.00 WIB waktu pada ngumpul. Pukul 10.00 WIB malam bisa saja saya kabur.
Ditangkap pagi?
Ya pagi.
Kenapa tidak kabur?
Buat apa kabur. Saya sudah tahu kalau membunuh pasti ditangkap. Saya slow. Saya tetap masuk kerja.
Berapa lama kerja di situ (Fuji)?
2009-2010, setahun. 2011 dipanggil lagi.
Jadi apa?
Operator produksi.
Lulusan apa?
SMA. SMA Yasmin Jakarta Utara.
Soal perkosa anak. Kenapa perkosa anak?
Nggak tahu ya. Kenapa ya, tiba-tiba.
Kelaminnya bisa ereksi dengan anak itu?
Bisa. Tapi setengah saja langsung masukin.
Tiap hari nonton film porno?
Biasanya di tempat kerja. Pukul 09.00 WIB malam.
Harus? Kalau nggak nonton nggak enak?
Nggak juga sih.
Sudah hubungi Intan (pacar Rahmat)?
Belum. Belum tahu dia kayak gimana sekarang.
Tahu dia mau mengancam bunuh diri?
Tahu.
Kris teman dari mana?
Temen kerja 2009. Saya ketemu dia. Dia masuk dulu baru saya.
Kalian bersahabat?
Sobatan. Dulu shift sama tapi sekarang beda
Kris sudah tahu rencana pembunuhan?
Saya cerita ke dia. saya mau gini-gini. Ayo ke sana Kris. Ikut dia. Kita berangkat bareng dari tempat ibu. Awalnya saya ada di tempat Hertati. Terus saya jemput Kris di tempat ibu.
Sampai di rumah Hertati lagi habis maghrib. Motor saya masukkin dulu ke rumah. Karena nggak mungkin pas saya naikkin mayat ke motor, nanti ketahuan orang kalau tidak dimasukin ke rumah.
Di dalam kopor ada kartu nama. Dari mana itu?
Saya minta dari orang. Asal saja. Kelapa Gading kan, saya masukin saja.
Dari awal memang sudah ada rencana memasukkan kartu ke kopor?
Ya.
Jadi dua minggu itu rencana memang seperti itu?
Ya.
Jadi pembunuhan hari itu berjalan sesuai rencana?
Ya.
Hubungan intim itu bagian dalam rencana?
Ya.
Juga hubungan intim dengan anaknya juga?
Ya.
(gus/vit)










































