Namun pihak keluarga Hayat membantah semua tuduhan tersebut.
"Kita bingung, dia dituduh perakit bom. Padahal main komputer saja dia tidak bisa," kata Imron Masyo (40), salah satu sanak keluarga Hayat, yang ditemui usai pemakaman di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Selasa (27/9).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terakhir kali dirinya bertemu dengan Pino ketika mendatangi rumah neneknya di Cirebon. Tidak lama setelah peristiwa ledakan bom di Mapolresta Cirebon.
"Saya lagi DPO (Daftar Pencarian Orang)," kata Imron menirukan ucapan Pino.
Mulanya keluarga tidak menyangka Pino diburu polisi karena kasus teroris. Keluarga mengira Pino menjadi buronan karena kasus perusakan toko swalayan Alfamart.
"Saya baru tahu dia DPO teroris lewat selebaran polisi," katanya.
Karena lama tidak mendengar kabar dari Pino aliasa Hayat, keluarga terkejut ketika nama Pino disebut-sebut sebagai pelaku bom bunuh diri. "Waktu lihat foto pelaku bom bunuh diri, saya langsung yakin itu memang dia," ujar Imron.
(ahy/lh)











































