"Hingga saat ini belum ada jawaban yang pasti, siapa mereka yang bisa berpotensi menjadi bomber. Berbagai penelitian masih menjadi perdebatan," kata psikolog forensik Universitas Bina Nusantara (Binus), Reza Indragiri Amriel saat berbincang dengan detikcom, Senin, (26/9/2011).
Menurut sebuah riset, bomber dilakukan oleh seorang psikopat. Namun hal ini terbantahkan karena ciri psikopat cenderung ingin memunculkan ego sendiri di tengah kematian orang lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada juga riset yang mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang yang mengalami gangguan mental. Namun hal ini juga dibantah. Sebab, pelaku bom bunuh diri merencanakan aksinya dengan rapi, merakit bom, melakukan survei dan memilih lokasi yang terencana.
"Mereka juga masih sempat memakai baju yang rapi untuk mengelabui orang-orang di sekelilingnya," beber Reza.
Pendekatan psiko kultural, menurut Reza, adalah tipe pendekatan yang paling rasional menjawab mengapa seseorang bisa menjadi bomber. Yaitu dalam masyarakat yang komunal, cenderung lebih tinggi peluang timbul bomber dibanding dalam masyarakat individual. Masyarakat komunal ini bisa diartikan komunal sebagai masyarakat kolektif karena kedekatan emosional, kedekatan kultur, kedekatan sejarah atau kedekatan beragama.
"Di Amerika Serikat dan Eropa yang masyarakatnya individual, kejahatan mereka lebih kejahatan individu seperti money loundring dan sebagainya. Sementara masyakarat Timur Tengah atau Indonesia yang rasa kolektifnya tinggi, memilih kejahatan yang bersiat kolektif," tuturnya.
Adapun khusus untuk wilayah konflik Palestina-Israel, pelaku bom bunuh diri adalah yang memiliki pemahaman beragama di level menengah. Dia bukan pemeluk beragama pemula atau bukan ahli agama. "Di level inilah, orang tergerak menjadi pelaku bom bunuh diri. Yang memahami agama secara setengah-setengah," tuntas Reza.
(asp/mok)











































