"Sangat disayangkan, wartawan itu pilar demokrasi, anak-anak SMA 6 adalah calon pemimpin bangsa, tapi kok bisa tawuran. Kalau begini jadinya bangsa kita ini sedang sakit, sepertinya sudah menjadi puncak gunung es," ujar Buya, sapaan akrab Syafii Maarif, usai berkunjung ke Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Rabu (21/9).
Tawuran yang melibatkan beberapa siswa SMA 6 di Bulungan, Jakarta Selatan, bukan pertama kali terjadi. Bahkan, adu jotos antara pelajar di kawasan dekat pusat perbelanjaan dan perkantoran itu kerap terjadi pada tahun 1970-an.
"Itu tradisi busuk, dosa. Potong saja tradisi itu," tegas Buya.
Dia enggan menyalahkan faktor apa yang mendasari para siswa SMA 6 nekat melakukan tawuran, bahkan sejak tahun 70an. Lalu, siapa yang disalahkan dalam hal ini sampai tidak bisa meredam gejolak remaja yang 'hobi' tawuran itu?
"Guru-guru harus instropeksi. Bisa juga guru-guru yang salah mendidik, pengaruh orang luar atau bisa saja murid-murid itu kelebihan enerji untuk berkelahi," kata Syafei sambil tertawa.
(ahy/lh)










































