"(Kejahatan seksual) Sangat mungkin terjadi. Bisa terpancing. Karena efeknya itu setelah melihat bisa mengundang birahi seorang laki-laki," kata sosiolog Dr Musni Umar kepada detikcom, Selasa (13/9/2011).
Apalagi, lanjut Musni, internet sekarang sudah bisa digunakan anak-anak. Anak-anak dengan mudahnya bisa mengakses Youtube dan melihat video-video seperti itu. Karena itu, harus ada kontrol internal dari penyanyi itu sendiri. Untuk menjadi terkenal dan disenangi masyarakat, seorang penyanyi tidak harus berpakaian seksi dan bergoyang erotis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kontrol internal dari para sponsor penyanyi dangdut erotis ini juga harus dilakukan. Sponsor penyanyi erotis ini harus bisa menampilkan penyanyi dangdut yang berpakaian sopan dan menunjukkan sisi lain dangdut yang bukan cuma segi hiburan.
"Tapi juga harus ada unsur pendidikannya bagi masyarakat. Yang bikin skenario seperti ini harus hati-hati betul," ungkapnya.
Jika kontrol internal itu tidak bisa dilakukan, lanjut Musni, kontrol eksternal yang harus bergerak. Seperti RT, RW, pemerintah daerah, dan polisi.
"Pemerintah daerah juga bisa mengimbau. Kalau tidak polisi yang bergerak. Sebelum ada organisasi tertentu yang menggerebek. Kita kan nggak mau gitu. Masak organisasi yang bertindak," jelasnya.
Musni berpendapat, dangdut erotis ini merupakan fenomena yang menarik perhatian masyarakat, yang pada dasarnya bertujuan untuk mencari uang. Sponsor atau penyanyi dangdut erotis tersebut tidak lagi memikirkan moralitas.
"Memang masyarakat ada yang menyenangi itu. Tapi ada juga yang bertentangan. Karena itu ini bisa menimbulkan kontroversi dan bisa mendapatkan perlawanan dari masyarakat," ungkapnya.
Sejumlah video dangdut erotis banyak ditonton di Youtube. Video dangdut itu antara lain menampilkan Lina Geboy, Merry Geboy hingga Hesty Bohay.Aksi dangdut itu tidak cuma disaksikan lelaki dewasa tapi juga anak-anak di bawah umur.
(gus/nrl)











































