Garut Alami Kerusakan Lingkungan Terparah di Jabar

Garut Alami Kerusakan Lingkungan Terparah di Jabar

- detikNews
Kamis, 01 Jul 2004 18:28 WIB
Bandung - Kawasan Suaka Alam Sancang di Garut Selatan dinilai telah mengalami kerusakan lingkungan yang cukup parah, bahkan terparah di Jabar. Pemda disarankan segera mengajukan permintaan kepada Departemen Kehutanan agar kawasan hutan lindung dan budidaya yang luasnya sekitar 2 ribu hektar itu dijadikan sebagai aset global.Demikian dikatakan Direktur Tata Ruang dan Pertanahan Badan Pengawasan Pembangunan Nasional (Bappenas),Sudjana Royat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah di Kantor Bappeda Jabar, Jl. Dago Bandung, Kamis (1/7/2004). Pertemuan itu juga dihadiri Gubernur Jabar Danny Setiawan dan para bupati/walikota se-Jabar.Menurut Sudjana, kawasan Suaka Alam Sancang Garut Selatan itu telah mengalami kerusakan lingkungan terparah di Jabar. Bupati Garut Agus Supriadi sendiri mengakui kerusakan hutan itu awalnya terjadi akibat penjarahan oleh masyarakat yang meng-klaim sebagai pemilik lahan.Semula, penjarahan dilakukan di lokasi yang digunakan perkebunan PT Condong Hulu kemudian merembet ke lahan perkebunan karet milik PTPN VIII dan hutan jati yang dikelola Perhutani. Bahkan akhirnya juga meluas ke wilayah hutan lindung.Dari data Bappenas yang dipaparkan Sudjana, Kabupaten Garut merupakan wilayah yang terparah tingkat kerusakan lingkungaannya dibandingkan 25 kabupaten/kota lainnya di Jabar. "Kerusakan hutan tidak hanya terjadi di Sancang tetapi juga di kawasan Cisewu, Cikajang dan Cisurupan, di kaki Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray," tuturnya.Pemda Kabupaten lanjut dia, kesulitan untuk merehabilitasi kawasan hutan yang lingkungannya rusak itu. "Kami mengalami keterbatasan dana untuk merehabilitasi hutan," katanya.Karena itu, pihak Pemda mengaku sangat gembira jika lokasi itu kemudian bisa dijadikan aset global karena akan juga terawasi oleh masyarakat luas. "Itu akan bagus sekali," tambahnya. Sementara, Kepala Dinas Kehutanan Jabar Endang Supriadi mengatakan sekitar 50 persen kawasan Sancang memang rusak. Di kawasan konservasi itu sebetulnya terdapat banyak species yang dilindungi seperti Harimau Jawa dan Banteng (Bos Sondaicus). Sementara untuk fauna yang langka, di situ juga terdapat Pohon Kaboa (Lumnitzera Racemosa), yang merupakan tumbuhan khas Sancang dan tidak bisa ditemui di lokasi lain.Pihak Dinas Kehutanan, kata dia, sangat mendukung ide menjadikan kawasan itu sebagai aset global. "Sebetulnya sudah lama diajukan kepada Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi (PHKA). Tapi sampai sekarang masih belum ada jawaban," ungkapnya. (rif/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads