Kisah 'Si Rambo' di Cipasung

Kisah 'Si Rambo' di Cipasung

- detikNews
Senin, 15 Agu 2011 14:18 WIB
Kisah Si Rambo di Cipasung
Tasikmalaya - Sebagian santri yang duduk di luar masjid itu langsung bertepuk tangan ketika tamu yang ditunggu-tunggu itu tiba, Hatta Rajasa. Dia langsung bergabung di barisan depan untuk berbuka puasa bersama dengan 700-an santri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kepada para kiai dan santri, Hatta mengaku sengaja singgah di Cipasung di tengah-tengah kunjungan kerjanya sebagai Menko Perekonomian di Tasikmalaya.

"Kalau saya ke Tasikmalaya, tidak afdhol kalau tidak ke pondok yang sangat terkenal ini," kata Hatta yang berbatik gelap itu, Sabtu (13/8) lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak ada yang spesial dalam momen buka puasa bersama itu, kecuali pernyataan Pimpinan Ponpes Cipasung KH Bunyamin Ruhiyat. Permohonan doa Hatta agar amanah dalam menjalankan tugas-tugas kementerian, dijawab dengan gamblang oleh adik kandung almarhum Ilyas Ruhiyat, pendiri ponpes Nahdlatul Ulama (NU) tersohor di Jawa Barat, itu.

"Semoga tambah kedudukan dan jabatannya dalam menghadapi Pilpres 2014," kata Bunyamin Ruhiyat yang juga disambut riuh para santri.

Ada pun Hatta enggan berkomentar soal pernyataan Bunyamin itu. "Ngomong ekonomi aja deh," elak Hatta usai memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Cirebon hari berikutnya.

Tidak hanya Cipasung yang dikunjungi Hatta, Pondok Pesantren Cintawana di Kabupaten Tasikmalaya dan Pondok Pesantren Buntet di Kabupaten Cirebon juga disambanginya. Namun Hatta mengaku tidak ada maksud politis di balik kunjungannya ke ponpes-ponpes NU itu.

"Silaturahmi sudah menjadi darah daging saya. Sebagai orang mantan dari Jabar, sebagai mantan dibesarkan di masjid, ya wajar-wajar saja kan," kata Hatta.

Melihat perolehan suara PAN yang terus turun di Jabar, dugaan pendekatan Hatta ke ponpes-ponpes NU untuk kepentingan 2014 sepertinya bukanlah hal yang berlebihan. Apalagi Ponpes Cipasung dan Cintawana dikenal sebagai lumbung suara PPP, sementara Ponpes Buntet adalah kantong suara PKB. Dua partai itu adalah yang merajai basis NU di Jabar.

Menurut catatan detikcom, perolehan suara PAN di Jabar terus menurun sejak pemilu 1999 (7%), 2004 (5,1%), dan 2009 (5%). Nah, perolehan suara PAN yang merosot di Jabar itu berbanding lurus dengan perolehan suara partai itu di pemilu nasional, yakni 1999 (7,12%), 2004 (6,44%) dan 2009 (6,01%).

Meski mengaku berkunjung ke ponpes sebagai Menko Perekonomian, namun rombongan Hatta dalam safari Ramadan akhir pekan lalu, itu lebih banyak diisi oleh orang-orang PAN. Sebut saja Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan (Menhut), Bima Arya Sugiarto dan Sekjen PAN Taufik Kurniawan.

Adapun Ketua MPP PAN Amien Rais yang ikut rombongan, tidak pernah hadir saat Hatta mengunjungi ponpes-ponpes NU itu. Taufik membantah ketidakhadiran mantan ketua MPR itu terkait 'cerita lama' antara NU dan Muhammadiyah. Konon warga Nahdliyin masih marah dengan Amien yang melengserkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari kursi kepresiden lewat Sidang Istimewa MPR 2001.

"Kita cuma berbagi tugas. Saya dengan Pak Amien ke pasar murah di Kuningan saat ketum ke ponpes," kata Taufik. "Kalau soal ke pesantren NU, Pak Amien juga pernah ikut ke Ponpes NU di Bogor dan Bandung."

Menurutnya, membeda-bedakan NU dan Muhammadiyah dalam konteks politik pemilihan adalah hal yang sudah lawas. "Itu sudah kuno, sekarang orang lebih menimbang figur dan ketokohan," kata Taufik.

PPP ke PAN

Safari Ramadan Hatta ke Tasikmalaya juga diikuti dengan masuknya 3 tokoh PPP Tasikmalaya yakni Tatang Farhanul Hakim, Subarna, dan Asep Zulfikri ke PAN. Penyerahan kartu tanda anggota PAN untuk tiga tokoh itu pun dilakukan langsung oleh Hatta di sela-sela peresmian Rumah DPD PAN Tasikmalaya.

Tatang adalah eks bupati Tasikmalaya dalam dua periode berturut-turut. Dia juga mantan sekretaris DPD PPP Jabar. Sementara Subarna adalah mantan Ketua Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI), salah satu organisasi sayap pemuda PPP. Subarna tidak dicalonkan PPP dalam Pilakada tahun lalu dan akhirnya kalah dengan kendaraan Partai Golkar.

Dirangkul PAN, Tatang langsung ditempatkan sebagai wasekjen DPP PAN yang membidangi pemenangan pemilu di Jabar. Sementara Subarna kini duduk di pengurus DPW PAN Jabar dan Asep Zulkifri, anak Tatang, kini ketua Barisan Muda PAN di kabupaten tersebut.

Sekjen PAN Taufik Kurniawan membantah perekrutan 3 tokoh itu sebagai pintu masuk partainya merebut suara NU di Tasikmalaya dari dominasi PPP. Menurutnya, tokoh tersebutlah yang tertarik dengan PAN. "Ya ada klik politiklah," ujarnya.

Sekjen PPP M Romahurmuziy tidak khawatir dengar kepindahan tiga tokoh tersebut. Menurutnya, pemilih PPP di Tasikmalaya adalah pemilih fanatis secara institusional, bukan terhadap orang per orang.

"Keluarnya orang-orang tersebut saya yakin tidak akan berpengaruh signifikan terhada suara PPP. Apalagi seluruh anggota PPP tahu bagaimana Subarna dalam pilkada lalu. Insya Allah pemilih kita sudah sangat dewasa menyikapi itu," kata Romahurmuziy tanpa merinci tindakan Subarna.

Boleh jadi gerak PAN merangkul tokoh-tokoh PPP di Tasikmalaya tidak mengancam Partai Ka'bah itu. Namun, di Ponpes Cipasung, yang mejadi lumbung besar suara NU di Tasikmalaya, sudah beredar sebutan khas untuk Hatta, yakni Si Rambo alias rambut bodas (putih). Entah dikondisikan atau tidak oleh pengusus DPD PAN Tasikmalaya yang kebanyakan jebolan Cipasung, fenomena Si Rambo itu seolah terus dirawat.

"Istilah Si Rambo itu muncul tahun-tahun inilah," kata sumber detikcom di Cipasung.

Ketua DPP PAN Bidang Komunikasi Politik, Bima Arya Sugiarto, mengatakan dalam politik diferensiasi dan ciri khas itu penting. Tidak hanya dalam pemikiran dan karakter, tapi juga atribut diri. 'Rambut putih', Si Rambo' atau 'silver hair' (versi Amien Rais), menurut Bima, adalah modal tersendiri untuk memperkenalkan Hatta ke publik.

"Hubungan antara pemimpin dan rakyat, juga tergambar melalui sapaan atau panggilan mereka," kata Bima mencontohkan fenomena Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004 yang disebut rakyat menjadi 'SBY'.


(lrn/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads