Namun, anggapan ini ditolak oleh LBH Kesehatan. Mereka menganggap bahwa kasus ini terjadi akibat kekurangcakapan dokter dalam mendiagnosis penyakit.
"Kasus Ratna Ningsih yang sekarang dirawat di RS UKI bukan alergi obat. Itu lebih disebabkan karena pemeriksaan dokter yang tidak cukup memadai dan akhirnya memicu terjadinya Steven Johnson Syndrome," jelas Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus melalui rilis yang diterima detikcom, Jumat (5/8/2011) malam.
Menurut Iskandar, pemberian obat secara langsung yang dilakukan oleh dokter telah menyalahi prosedur. Karena efeknya yang bisa membahayakan keselamatan sang pasien apabila obat-obatan itu diberikan tanpa mempertimbangkan efeknya.
"Pemberian obat itu saja sudah salah. Masa dokter beri obat langsung ke pasien? Itu kan salah," terangnya.
Setelah melihat kondisi langsung si pasien di RS UKI, LBH Kesehatan juga menilai bahwa ada upaya dari Dinkes Kesehatan Provinsi DKI untuk menutupi kasus ini. Padahal menurutnya ini kasus serius dan luka-luka luar yang diderita oleh Ratna Ningsih menunjukkan adanya disfungsi organ dalam, yang bisa menimbulkan cacat permanen.
Sebelumnya, Ratna Ningsih tubuhnya melepuh setelah menjalani pengobatan di Puskesmas Ciracas. Kadinkes DKI Dien Emawati menyebut penyakit Ratna bukan karena malpraktek tapi alergi jenis Steven Johnson.
Saat ini Ratna Ningsih sudah ditangani oleh tim dokter di RS UKI, untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai.
(anw/anw)











































