Antisipasi Penyebaran Nyamuk Anopeles, Pemda Jabar Sebar Ikan
Selasa, 29 Jun 2004 05:31 WIB
Bandung -
Pemprov Jawa Barat melepas ikan lele dan nila ke laguna di Kecamatan Simpenan, Sukabumi. Langkah itu adalah langkah lanjut untuk menghambat menyebarnya nyamuk anopeles penyebar Malaria.Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Jawa Barat Daud Achmad pada detikcom di Gedung Sate Bandung, Senin (28/6/2004). "Kami masih mencoba membuat beberapa alternatif untuk penanganan jangka menengah mewabahnya malaria di Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi," kata Daud.Sebuah laguna seluas 4 hektar, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Desa Kertajaya Kecamatan Simpenan menjadi penyebab mewabahnya malaria. Laguna yang berisi genangan air payau menjadi sarang jentik nyamuk Anopeles Sundaicus yang menjadi vektor plasmodium vivax dan plasmodium tropicana penyebab penyakit malaria. Keberadaan lagun tersebut yang menyebabkan kasus malaria di Kecamatan Simpenan menjadi endemis. Penyakit malaria yang telah menyebabkan kematian 10 orang, 8 diantaranya warga Kecamatan Simpenan dan sisanya warga Kecamatan Legong, membuat Menkes memberikan status KLB (Kejadian Luar Biasa) untuk Kabupaten Sukabumi.Beberapa alternatif untuk menekan mewabahnya malaria, menurut Daud masih dalam taraf pembicaraan. Sementara fokus penanganan untuk jangka menengah yang dilakukan bagaimana mengalirkan air payau yang terdapat di dalam laguna. "Kalau isinya air tawar atau air asin, jentiknya akan mati," kata Daud. Untuk itu alternatifnya masih terus diinventarisir. Diantaranya dalam kunjungan Pihak Pemprov Jabar, Jumat (25/6/2004), sempat dibicarakan pemasangan pipa. "Waktu itu Sekda meminta agar dikaji pemasangan pipa yang menghubungkan laguna tersebut dengan air laut. Kalau pasang pipa pun memungkinkan ke laut," kata Daud.Belum Ada Temuan BaruDi tempat terpisah, Seksi Kasi Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas Kesehatan Jawa Barat Udeng Daman P menginformasikan, pihaknya belum mendapat laporan temuan baru kasus malaria selain dari Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Garut. "Di Garut sepanjang Januari-Mei 2004 dilaporkan 206 kasus malaria, tapi situasi di sana sudah mereda," katanya. Sebagai langkah antisipasi khusus malaria, menurut Udeng, selain melakukan pengamatan kasus Dinkes Jabar juga melakukan pengamatan vektor dengan menginventarisir lokasi-lokasi yang diasumsikan menjadi breeding place nyamuk Anoopeles.Menurut Udeng, Dinkes Jabar sudah meminta agar Dinkes Kab/Kota menginventarisir lokasi-lokasi yang menjadi breeding place dari nyamuk Anopeles yang menjadi vektor penularan malaria. Untuk daerah yang dikategorikan reseptif (terdapat nyamuk Anopeles) semuanya di selatan Jawa Barat, yakni Kabupaten Sukabumi, Garut, Cianjur Tasikmalaya, dan Ciamis. Seperti di Garut, papar Udeng, lokasi endemisnya terletak di Kecamatan Cibolang. "Yang menjadi sarang jentik nyamuk di sana selain keberadaan laguna seperti di Sukabumi, juga tambak-tambah yang ditelantarkan pemiliknya. Kami masih menunggu laporan lokasi-lokasi tambak yang terbengkalai," katanya.
(mar/)










































