"Itu bukan tukang parkir, tapi petugas hotel," kata guide, Monica, menunjuk lelaki bersafari biru yang mengatur kendaraan keluar masuk Princeton Suite Bangkok, Selasa (26/7/2011).
Kepada rombongan Familirization Trip Corporate and Media Partner Garuda Indonesia Holidays, perempuan yang ke Indonesia beberapa kali ini menyatakan, kalau di Indonesia, sedikit-sedikit bayar parkir. Tapi kalau di Thailand, tidak perlu membayar karena tidak ada tukang parkir.
"Tidak ada apa itu sebutannya?" tanyanya. Ketika sebagian anggota rombongan menyebut 'Pak Ogah', dia mengiyakan dan langsung tertawa.
Kesadaran berkendara di Thailand terbilang tinggi. Meski tidak ada polisi lalu lintas, mereka patuh terhadap rambu. Jika dilarang berhenti, mereka juga akan tetap jalan seberapa pun daruratnya kondisi yang dihadapi.
Di Pattaya misalnya, rombongan sempat meminta diturunkan di jalan pinggir pantai untuk makan. Namun si sopir menolak. Alasannya, ada larangan berhenti. Padahal saat itu, kondisi jalan macet sehingga memungkinkan rombongan turun dari bus.
Yang sering tidak tertib justru taksi. Bukan cara berkendaranya, melainkan tarif. Meski memasang logo "Taksi Meter", sebagian taksi kerap menipu penggunanya. Mereka memasang tarif begitu calon penumpang mendekat. Kadang, mereka tidak langsung membawa penumpang ke lokasi tujuan, tapi berputar-putar agar kesannya jauh.
"Maka hati-hati kalau pakai taksi. Harus tahu kira-kira berapa biayanya," kata Monica.
Tour selama 4 hari 3 malam fokus di Bangkok dan Pattaya. Dia dua kota penting di Thailand ini, rombongan dibawa ke berbagai destinasi, mulai dari pasar, pantai hingga pusat kerajinan.
(try/lh)











































