Pemerintah Belanda melalui kedutaannya di Paramaribo telah menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah Suriname, namun hal ini dinilai oleh Suriname tidak cukup, demikian dipantau detikcom dari NRC Handelsblad, Selasa (19/7/2011).
Friksi dua negara bekas kolonisator dan koloni itu bermula pada Sabtu (16/7/2011) lalu, ketika polisi distrik Den Haag,atas permohonan pemerintah Italia,mencari dua tersangka anggota jaringan pengedar kokain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juga pada saat polisi merangsek masuk ke dalam rumah, tak seorang pun menunjukkan identitas diri sebagai diplomat. Ketika kemudian seorang penghuni menyatakan bahwa dia seorang diplomat dan polisi tidak bisa menemukan tersangka, polisi yang berkekuatan lima personel langsung meninggalkan rumah itu.
"Tidak ada yang salah (dalam tindakan itu)," ujar jurubicara polisi.
Pemerintah Suriname menolak cerita versi polisi. Menurut Menteri Luarnegeri Suriname Winston Lackin, KUAI perwakilan Suriname David Abiamofo telah memperkenalkan identitasnya sebagai diplomat, namun dengan cara sangat kasar ditampik bahwa tak ada urusan dengan itu.
"Mereka dengan kasar masuk ke dalam rumah. Dia (KUAI Suriname) dibekap ke sofa dan disaksikan keluarganya rumah kediaman itu digeledah," ujar Menlu Lackin di muka parlemen Suriname, Senin kemarin.
Parlemen Suriname menilai aksi pemerintah Belanda melalui aparat kepolisiannya sebagai pelecehan.
Mantan presiden Venetiaan mengingatkan pada insiden 1993, ketika kamar mahasiswa yang dihuni puterinya --yang kuliah di Negeri Belanda, red-- didobrak oleh polisi Belanda dengan alasan mencari kriminal Afrika. Menurut Venetiaan, permintaan maaf Belanda itu tak bisa dipercaya.
Setelah protes resmi dari pemerintah Suriname, akhirnya pemerintah Belanda menyampaikan permohonan maaf secara tertulis, demikian konfirmasi dari Kementerian Luarnegeri Belanda hari ini. (es/es)










































