Aksi sore ini digelar di pintu gerbang Alun Alun Utara di Gapura Pangurakan di Jl Trikora atau sekitar 300 meter dari Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta. Massa dari Sekber Keistimewaan DIY itu membawa bendara lambang Negari Ngayogyakarto Hadinigrat. Mereka juga membawa tiga buah spanduk bertuliskan "Liwat Plintheng, Usir SBY dari Yogyakarta, Sak Dumuk Bathuk Senyari Bumi."
Sebagai simbol penolakan dan pengusiran SBY yang rencananya akan menginap di Gedung Agung Yogyakarta selama 2 malam itu, massa juga menyiapkan ketapel (plintheng) dan pasukan srikandi Mataram yang membawa senjata panah. Selama aksi berlangsung massa meneriakkan yel-yel "SBY No, Penetapan Yes."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Massa akhirnya hanya bisa berorasi di utara Alun Alun atau di depan pintu gerbang Pangurakan Jl Trikora. Sedikitnya 2 lapis aparat kepolisian bersiaga dan berjaga agar massa tidak mendekat. Sedangkan di sekitar Simpang Empat Kantor Pos Besar sudah dijaga aparat TNI bersenjata lengkap.
Koordinasi aksi Widihasto dalam orasinya mengatakan selama tahun 2009 dan 2010 presiden SBY telah mengeluarkan dua kali pernyataan yang membuat sakit hati warga Yogyakarta. Pertama tahun 2009, SBY mengatakan rangkap jabatan itu hanya ada di pentas ketoprak. Kedua tahun 2010, SBY mengatakan Yogyakarta sebagai monarkhi yang bertabrakan dengan demokrasi.
"Ini sungguh membuat sakit hati rakyat Yogya. Selain itu, macetnya pembahasan RUUK Yogya di DPR adalah Partai Demokrat," kata Hasto.
Untuk mengekspresikan dan simbol pengusiran kedatangan SBY yang akan menghadiri pelantikan Prasetya Perwira (Praspa) TNI 2011 itu, massa yang membawa senjata ketapel dan panah kemudian berjongkok seolah-olah membidik sasaran ke arah utara Gedung Agung. Namun ketapel dan panah itu tidak dilengkapi batu. Sedangkan senjata panah hanya busur dan anak panah tanpa dilengkapi tali busur.
"Ini gaya kawula Mataram yang menolak SBY datang ke Yogya dengan melontarkan ketapel dan anak panah ke arah pesawat SBY yang mau mendarat," kata Hasto.
Meski demo dibumbui aksi teatrikal, namun aparat tampak serius dan tetap tidak memperbolehkan massa bergerak ,mendekati Gedung Agung. Koordinator aksi juga sempat bernegosiasi dengan Kapoltabes Yogyakarta, Kombes Mustaqim. Takut kecolongan, aparat kepolisian membuat pagar betis pengamanan di tengah Jl Trikora dengan ketat.
(bgs/mad)










































