Waduh, Raja Ampat Terancam Penambangan Nikel

Waduh, Raja Ampat Terancam Penambangan Nikel

- detikNews
Senin, 04 Jul 2011 15:30 WIB
Brisbane - Lupakan sejenak kisah kawasan Raja Ampat, Papua, nan indah. Kini, aktivitas pertambangan nikel mengancam kelestarian flora dan fauna bawah laut di Raja Ampat.

Belakangan, kapal tambang hilir mudik antara Australia dan Raja Ampat membawa tanah liat dengan kandungan nikel dan kobalt. Dalam penelusuran Sydney Morning Herald edisi 2 Juli 2011, para aktivis lingkungan dan ilmuwan memprotes penambangan di Raja Ampat yang bisa mengancam ekosistem bawah laut paling berharga di dunia itu. Masyarakat setempat malah ikut serta membantu para perusahaan tambang itu.

"Saya sedih dengan apa yang terjadi. Jika orang menambang tanpa melakukan studi lingkungan yang benar, itu keterlaluan. Dan itu yang terjadi di sana," kata Charlie Veron, mantan kepala ilmuwan dari Australian Institute of Marine Sciences.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun Gubernur Papua Barat, Abraham Atururi melarang pertambangan di Raja Ampat, faktanya kapal-kapal tetap membawa nikel dan kobalt menuju perusahaan Queensland Nickel milik jutawan Australia Clive Palmer.

"Pertambangan sudah sejak 2006. Warga protes, tapi tentara dan polisi datang," kata Yohannis Goram dari Yayasan Nazareth kepada Sydney Morning Herald.

Lantas siapa operator lokalnya? PT ASP dan PT ASI adalah penambang nikel ini. Warga mengatakan aktivitas tambang kedua perusahaan satu grup itu merusak kawasan Pantai Raja Ampat. Menurut Veron, terumbu karang tertutup limbah tambang dan ikan-ikan menghilang.

"Sedimentasi tenggelam ke atas terumbu karang, tapi yang lebih buruk adalah fraksi tanah liat, di mana partikel halus mengambang di air, menghalangi sinar matahari," kata dia.

15 Perusahaan tambang lain berhenti beroperasi setelah larangan gubernur, namun PT ASP dan PT ASI bertahan. Disebut-sebut, PT ASP dan PT ASI punya backing pejabat dan militer di Jakarta. Queensland Nickel menolak berkomentar soal perusahaan rekanan mereka itu.

"Kami tidak berkomentar soal urusan bisnis suplier kami," kata humas Queensland Nickel, Mark Kelly.

Raja Ampat adalah sebuah kawasan ekologi yang sangat penting untuk dunia, seperti Great Barrier Reef milik Australia. Raja Ampat berada di tengah kawasan segitiga terumbu karang dunia dan menjadi sumber makanan untuk 1,6 miliar hektar terumbu karang dari Filipina sampai Pulau Solomon.

(fay/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads