Pantauan detikcom di Stasiun Sudirman, Kamis (16/6/2011), komunitas pengguna KRL yang tergabung dalam KRL Mania menggelar dua meja di lobi stasiun sejak pukul 17.00 WIB.
Di atas meja itu, ada beberapa kertas berukuran A4 dengan tulisan 'Tolak Kenaikan Tarif' yang di bawahnya terdapat beberapa kolom 'Nama', 'Alamat' dan 'Tanda Tangan'. Masing-masing kertas berisi 25 baris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sampai Rp 9 ribu kami keberatan. Hitung saja kalau dikalikan dalam sebulan. Apalagi pelayanannya ya gitu-gitu saja," ujar salah satu penumpang KRL Jakarta-Bogor, Wahyudi.
Sedangkan karyawan lain, Fitria mengatakan sudah mendengar akan ada pengumpulan tanda tangan ini sejak tadi pagi di kantornya di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
"Tadi di kantor ramai katanya mau ada demo tanda tangan. Jadi saya langsung tanda tangan. Saya pengennya yang penting murah, sama jadwal tepat nggak molor-molor," kata Fitria.
Ada 3 tuntutan yang akan mereka suarakan. Pertama, meminta standar pelayanan minimal (SPM) dipenuhi.
"Selama pelayanan buruk tidak pantas naik tarif, buruk sekali. SPM yang ringan sekali, mudah dan murah dilakukan, seperti melengkapi fasilitas kesehatan, P3K di stasiun, itu kan tidak perlu subsidi, kenapa tidak dilakukan juga. Kita tidak bicara mengenai pelayanan yang besar, yang kecil-kecil saja nggak bisa dilakukan," ujar humas KRL Mania, Agam saat berbincang dengan detikcom hari ini.
Dia juga mengeluhkan jadwal yang bertambah kacau. Agam mencontohkan jalur Bogor-Tanah Abang/Kota yang semula ada 32 perjalanan, jadwal yang baru hanya 29 perjalanan. Dari 29 perjalanan itu, 9 di antaranya jadwal KRL Ekonomi.
Ketiga, meminta pemerintah untuk mendukung angkutan massa berbasis rel. "Bus TransJ saja disubsidi, ini KRL Jabodetabek yang diharapkan menjadi back bone (transportasi) mengurangi kemacetan, subsidinya justru dikurangi," tutur Agam.
(nwk/asy)










































