Kesulitan akan air bersih ini karena kerusakan yang terjadi pada pipa penyaluran air dan sejumlah sumber mata air yang ada. Akibatnya, korban gempa terpaksa mengandalkan suplai air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Aek Mual yang didatangkan dengan mobil tanki dari Tarutung, ibukota Tapanuli Utara.
Puluhan warga terpaksa antre membawa jerigen, ember dan wadah seadanya untuk mendapatkan jatah air bersih dari mobil tanki penyuplai. Petugas air hanya bisa memberikan maksimal 10 liter untuk tiap warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk kebutuhan minum saja kurang. Belum lagi untuk cuci pakaian dan mandi," kata Gultom.
Namun dengan situasi yang ada sekarang ini, Gultom menyatakan mereka tidak bisa berharap banyak.
Sementara data dari Posko Bencana Alam Tapanuli Utara menyebutkan, jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa di 12 desa di di daerah itu sebanyak 775 rumah. Sebanyak 211 rumah di antaranya mengalami rusak berat, 88 rumah rusak sedang dan 520 rumah rusak ringan.
Selain merusak rumah warga, gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) yang terjadi dua kali pada Selasa (14/6/2011) pagi pukul 07.58 WIB dan pukul 10.00 WIB, juga merusak 11 bangunan gedung sekolah.
Sementara warga yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 50 orang. Korban yang terkena dampak gempa hanya mengalami luka ringan. Tidak ada yang mengalami luka berat hingga membutuhkan perawatan intensif dengan alat medis khusus.
(rul/van)











































