Pramono: Ibu Siami Tulus, Beda dengan Politisi

Pramono: Ibu Siami Tulus, Beda dengan Politisi

- detikNews
Rabu, 15 Jun 2011 18:27 WIB
Pramono: Ibu Siami Tulus, Beda dengan Politisi
Jakarta - Keteladanan soal kejujuran dipertunjukkan oleh orang yang tak diduga-duga. Siami, wali murid pembongkar kecurangan Ujian Nasional dinilai tulus dalam melakukan gebrakannya. Berbeda halnya dengan para politisi.

"Kejujuran mahal sekali harganya. Saya kira keteladanan ditunjukkan Ibu Siami. Apa yang dilakukan beliau ini kan bener-bener tulus. Beda kalau saya yang melakukan, pasti banyak yang berpikir tidak tulus, saya kan politisi," ujar Wakil Ketua DPR Pramono Anung sambil tertawa .

Pramono menyampaikan hal tersebut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (15/6/2011).

Menurut Pram, negara ini miskin keteladanan akan nilai-nilai kejujuran. Hal ini membuat pelbagai kasus korupsi marak terjadi. Ia pun mengapresiasi atas apa yang telah diperjuangkan Siami.

"Menurut saya disimbolkan untuk menjadi Ibu Kejujuran itu tidak berlebihan," kata politisi PDIP ini.

Siami, wali murid SDN Gadel II, Tandes, Surabaya ini terancam terusir dari kampung halamannya. Ia dikecam warga sekitar karena membeberkan kecurangan yang terjadi di tempat buah hatinya menimba ilmu. Meski dikecam warga sekitar, namun ia mendapat dukungan dari banyak pihak.

Selain para politisi di Senayan ia juga mendapat dukungan dari masyarakat luas melalui situs jejaring sosial Facebook.

Kasus ini bermula dari laporan Alif kepada ibunya, Siami. Alif mengaku diminta untuk memberi contekan kepada teman-temannya saat mengikuti ujian. Siami lalu mengadu ke Komite Sekolah, namun tidak ditanggapi.

Siami lantas membawa kasus ini ke media massa. Setelah diberitakan, kasus ini sampai ke telinga Walikota Surabaya. Kasus ini pun diproses. Berbagai tanggapan muncul setelah kasus ini mencuat. Termasuk dari wali murid lain yang menuding Siami tidak punya hati.

Karena dianggap melakukan pembiaran terjadinya contekan massal, Kasek SDN Gadel II, Sukatman dianggap bersalah. Sukatman dikategorikan melakukan pelanggaran berat yang paling ringan dengan sanksi penurunan pangkat dari IVa menjadi IIId.

Sukatman juga dicopot dari jabatan kepala sekolah. Sukatman juga tidak diperkenankan menjadi guru selama tiga tahun. Kini Sukatman ditempatkan di Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai staf.

Sementara dua guru yakni Fatchur Rohman yang juga wali kelas VIA dan Prayitno guru kelas VIB dianggap melakukan pelanggaran disiplin sedang terberat. Sanksi yang diterima yakni, penurunan pangkat satu tingkat di bawahnya dan jabatan fungsional sebagai guru juga ikut lepas. Sanksi tersebut berlaku selama satu tahun.

Sanksi yang diterima ketiga pendidik ini membuat sejumlah wali murid lainnya marah. Mereka menuding Siami dan keluarganya tidak punya hati. Mereka bahkan mengusir keluarga Siami.

Mereka juga meminta Siami meminta maaf ke sekolah. Meski tuntutan itu sudah dilakukan, warga juga masih mengusir Siami. Peristiwa ini membuat Alif ketakutan.

(adi/nwk)


Berita Terkait