Umam Minta PKB Gelar Muktamar Dipercepat
Minggu, 20 Jun 2004 15:03 WIB
Jakarta - Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi (LPD) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Chotibul Umam Wiranu mendesak agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB menyelenggarakan muktamar dipercepat pada awal Januari 2005. Desakan ini didasarkan pada sinyalemen Ketua Dewan Syuro PKB KH. Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Ia menyatakan, ada sejumlah pengurus PKB bertindak untuk kepentingan diri sendiri dan bukan kepentingan partai. Ketiganya antara lain, Ketua Umum PKB Alwi Shihab, Ketua PKB AS Hikam dan Sekretaris Dewan Syuro Arifin Junaedi. Mereka biasa di sebut tiga A."Isyarat ke arah itu bisa dilihat dari statemen Gus Dur di Surabaya," kata Umam dalam percakapan dengan detikcom di Jakarta, Minggu (20/6/2004).Dalam pertemuan di Surabaya, kemarin, Ketua Garda Bangsa Imam Nahrowi menyatakan, kesiapannya untuk membersihkan PKB dari orang-orang yang mengambil untung untuk kepentingan pribadi.Atas permintaan itu, Gus Dur menjawab, itu sulit dilakukan paling tidak butuh waktu enam bulan. "Jadi itu ada isyarat muktamar dipercepat," kata Umam yang juga Wasekjen PKB ini. Hitungannya, jadwal resmi muktamar PKB pada Juni 2005, maka waktu enam bulan itu jatuh pada bulan Januari 2005. Akibat tindakan 3 A ini, lanjut Umam, organisasi tidak bisa berjalan efektif dan tidak bisa menjalankan tugas-tugas partai dengan baik. Oleh karena itu, partai harus melakukan perombakan pengurus sebagai upaya menormalkan kembali mekanisme dan kerja partai agar tetap lurus.Bahkan lanjut Umam, sinyalemen Gus Dur itu berdasarkan laporan dari berbagai daerah yang selama ini tidak berani menyampaikan ke publik tentang kinerja partai yang menurun itu. Menurut Umam, pakem politik warga Nahdliyin adalah kader partai yang menonjolkan diri sendiri untuk posisi jabatan tertentu, sebaiknya tidak diberikan tempat. Pasalnya, model orang seperti ini akan merusak masa depan partai dikemudian hari.Umam tidak berani menyebutkan secara detil apa saja kelemahan 3 A itu. Namun, ia menyebut nama AS Hikam sebagai orang yang tidak mampu menyelesaikan berbagai konflik dengan para kiai di Jawa Timur. Akibatnya, PKB tidak solid dan terpecah belah. Sedangkan sinyalemen lainnya adalah dalam sebuah pertemuan elit antara PKB dan Golkar, bulan lalu. Dalam pertemuan itu dibahas soal power sharing kabinet. Umam menilai, pertemuan itu sebagai gelagat jelas adanya kepentingan pribadi yang masuk untuk meraih jabatan tertentu dalam kabinet Wiranto-Gus Solah jika menang dalam pilpres.
(dsb/)











































