"Kami tidak pernah memutus hubungan dengan AS. Kami melakukan klarifikasi terkait administrasi (pengakuan negara) di UN. Kami berharap pengakuan bisa menjadi hasil," ujar Menlu Palestina Riyad Malki dalam jumpa pers di sela-sela konferensi tingkat menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non-Blok (GNB), di Grand Hyatt Hotel, Kamis (26/5/2011).
Malki juga senang, dalam perjuangan menuju negara berdaulat yang diakui keberadaannya di dunia internasional, rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas telah terjadi. Hal itu bisa menjadi salah satu modal bagi perjalanan Palestina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malki pun mengapresiasi pernyataan Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih pada pertengahan Mei yang mendukung pengembalian wilayah perbatasan Israel-Palestina seperti sebelum perang Arab-Israel pada tahun 1967. Ini merupakan pertama kalinya Obama menyampaikan sikap politik luar negerinya soal konflik Timur Tengah. Pernyataan ini kembali diulang Obama saat datang ke Inggris kemarin.
"Obama selama kunjungannya ke Inggris, dalam joint press conference secara jelas telah meyebut tentang negara berdaulat Palestina yang berbatasan dengan Mesir dan Yordania. Ini sangat jelas," sambung dia.
Dalam kesempatan itu, Malki juga menyatakan ucapan terima kasihnya kepada Pemerintah Indonesia, baik di level menteri maupun level presiden, yang telah memberikan dukungan bagi negara Palestina berdaulat.
"Kami menghargai dukungan dari Indonesia juga, di level menteri dan presiden yang telah mendorong dukungan kolektif Gerakan Non-Blok (GNB) untuk kami," ucap Malki.
(vit/rdf)











































