"Saya tidak ragu bahwa sejarah dunia akan berbeda tanpa GNB. Tanpa kita, bahaya bipolarisme akan benar-benar mendominasi abad ke-20 dan negara-negara sedang berkembang akan termarjinalkan," ujar SBY dalam pembukaan KTM ke-16 GNB di Grand Hyatt Hotel, Nusa Dua, Bali, Rabu (25/5/2011).
Pada tahun ini, GNB yang berusia setengah abad telah melakukan perjuangan panjang demi dunia yang lebih baik. Sebagai negara anggota GNB, Indonesia pun merasa terhormat telah menjadi anggota gerakan perdamaian terbesar dalam sejarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kita (GNB) menyumbang 60 persen negara di sistem internasional," imbuh SBY.
SBY menambahkan, GNB sukses memajukan dekolonisasi dengan mendukung perjuangan bangsa-bangsa dalam menentukan nasib sendiri. Kita secara efektif membantu mengakhiri apartheid. Kami bekerja sangat keras untuk meniadakan persenjataan nuklir," imbuhnya.
Selain itu, papar SBY, GNB juga telah memajukan multikulturalisme dan mendorong reformasi Perserikatan Bangsa-bangsa. Hal ini penting karena PBB merupakan organisasi yang mengakomodasi kepentingan semua bangsa, baik negara maju atau berkembang, negara besar maupun kecil.
Kendati sudah banyak melakukan aksi, namun pekerjaan baik GNB belumlah usai, dan pergerakan ini masih jauh dari sempurna. "Dalam 50 tahun terakhir, ada naik dan turun. Ada konflik antar negara anggota yang membebani kita. Ada kalanya kita kehilangan momentum tanpa arah yang jelas. Dan ada kalanya juga kita berteriak terlalu lantang di mana kita tidak mendengar apa yang dibisikkan dunia," ucap SBY.
(vta/rdf)











































