"Itu seringkali ditemui, bahkan proyek ini diinisiasi bersama oleh makelar, kontraktor, dan DPR sendiri. Dalam kasus Abdul Hadi Djamal (pembangunan bandara Indonesia Timur), misalnya kan belum ada pemikiran di pemerintah penting akan dibangun tapi tiba-tiba dibentuk sedemikian rupa bahwa itu penting," ujar Wakil Ketua Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson Junto.
Esson, panggilan akrabnya menjelaskan hal ini usai diskusi Polemik radio Trijaya bertajuk 'Ketika Proyek SEA Games Diproyekkan' di Warung Daun, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (14/5/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan pilih-pilih pergaulan. Tapi buat apa berteman dengan orang-orang yang memiliki konflik kepentingan dan hanya berpotensi menimbulkan masalah," cetus dia.
Menurut Esson, Tim investigasi Partai Demokrat harus menelusuri siapa saja orang-orang yang ditemui Rossa di Panitia Anggaran dan Komisi X DPR. "Siapa siapa saja sih yang ditemui Rosa dan membawa kepentingan siapa, karena Rosa sendiri membawa-bawa nama PT Anak Negeri dan kita tahu siapa orang-orang di situ," ucapnya.
Seperti diketahui, KPK menangkap tangan Sekretaris Kemenpora Wafid Muharam, Manajer Marketing PT Duta Graha Indah M El Idris, dan Mindo Rosalina Manulang yang berperan sebagai broker.
KPK menyita cek Rp 3,2 miliar. Suap diduga terkait proyek pembangunan wisma atlet di Palembang. Kasus ini merembet ke DPR karena Rosa ditengarai kerap main ke DPR dan banyak kenal anggota DPR di panitia anggaran. Nama 2 politisi Demokrat di Komisi X, Nazaruddin dan Angelina Sondakh disebut-sebut tersangkut kasus tersebut. Keduanya sudah membantah tudingan tersebut.
(rdf/vta)











































