"Kemarin, sepertinya situasi tegang dalam sidang pleno. Kami mengungkapkan isu bukan untuk membuat masalah, tapi untuk menyelesaikan masalah," kata PM Hun Sen dalam jumpa pers di sela-sela KTT ASEAN di Jakarta Convention Center (JCC), Jl Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Minggu (8/5/2011).
Hun Sen menyadari, sengketa wilayah di dekat kuil Preah Vihea antara Kamboja dan Thailand telah merusak atmosfer damai di ASEAN. Karena itu, Kamboja secepatnya menjawab Term Of Reference (TOR) tawaran Indonesia yang berisi penerjunan tim peninjau ke wilayah konflik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sebaliknya Thailand belum bersedia menandatangi secara resmi TOR tersebut. Mereka mengeluarkan syarat bahwa sebelum menandatangani TOR, pasukan Kamboja yang berada di wilayah konflik harus ditarik dan syarat tersebut yang ditolak Kamboja.
Thailand, kata Hun Sen, juga ingin digelarnya pertemuan The General Border Commission (GBC) terlebih dahulu sebelum memutuskan menandatangi TOR. Sebaliknya, pihak Kamboja menginginkan agar pertemuan itu digelar setelah dikirimnya pasukan peninjau ke perbatasan.
Kontak senjata antara pasukan Thailand dan Kamboja di perbatasan telah menyebabkan lebih dari 60 ribu orang mengungsi. Sebanyak 15 orang tewas dan puluhan orang terluka.
Sebuah gencatan senjata disepakati pada Rabu 17 April, namun dilanggar. Satu tentara Thailand dilaporkan tewas dalam kejadian terakhir ini dan 4 lainnya terluka.
(irw/lh)











































