"Pepi sering ke rumah. Terakhir Senin. Tapi saya nggak tahu yang dibicarakan. Mungkin sejak Senin itu dipantau," kata Nurshabah di rumah pengacara Imam, Ferry Juan, di Kota Wisata, Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/4/2011).
Sepengetahuan Nurshabah, Pepi datang ke rumahnya sendirian dan bertemu langsung dengan suaminya, kamerawan studio Global TV. Namun saat itu Nurshabah sedang tidak ada di rumah. "Ya (dia) ketemu sama suami saya. Tapi saya nggak ada di rumah," ujar perempuan berjilbab ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pulang kerja langsung ngelonin anak saya. Sementara Mas Imam di belakang nonton TV. Saya ketiduran. Pukul 22.30 WIB, tiba-tiba di luar sudah ramai," jelasnya.
Tak lama, lanjut Nurshabah, Imam mengatakan kepada dirinya bahwa Pepi yang sering datang ke rumah sudah ditangkap polisi. Nurshabah pun keluar rumah dan melihat sudah ada sejumlah polisi.
"Saya tanya ke salah satu petugas, jawabnya: nggak ini cuma urusan kami dengan wartawan. Mendengar itu saya biasa saja. Namanya juga wartawan, urusan sama polisi biasa," ungkapnya.
Namun keesokan harinya, hati Nurshabah bergetar saat melihat pemberitaan di media massa mengenai suaminya yang ditangkap terkait kasus bom Serpong. "Itu bikin saya shock. Ini kan berat banget," kata Nurshabah lirih sambil menangis.
Menurut Nurshabah, malam dijemputnya Imam tidak seperti penangkapan. Polisi sempat membawa satu kamera video dan kamera foto milik suaminya. "Itu tenang-tenang saja. Seperti bukan penangkapan kok," jelasnya.
Pepi ditangkap pada 21 April bersama dua rekannya di Aceh. Pepi merupakan tersangka otak pelaku teror bom buku dan bom Serpong. Polisi menetapkan 17 tersangka dalam kasus ini, termasuk istri Pepi, Deny Carmanita. Imam ditangkap karena ditawari oleh Pepi untuk mengabadikan teror bom yang dirancangnya.
(gus/nrl)










































