Jeffrey Winters: SBY Capres Teflon
Senin, 14 Jun 2004 03:10 WIB
Jakarta - Teflon bersifat tidak lengket. Begitu lah SBY dalam penilaian Jeffrey Winters. Meski SBY diterpa banyak isu negatif, tapi tidak ada yang nyantel."SBY bisa disebut kandidat teflon. Begitu banyak isu negatif yang diajukan ke SBY, tapi semuanya tidak mempan. Ini terlihat dari jajak pendapat yang mendukung SBY tidak turun."Demikian kata pengamat masalah politik Indonesia asal AS ini dalam wawancara dengan News Room Pusat Informasi SBY-JK di Jakarta. Petikan tanya jawabnya disampaikan kepada detikcom melalui rilis, Senin (14/6/2004) dinihari.Menurut Winters, SBY sangat mungkin memperoleh suara terbanyak pada putaran pertama Pilpres. Sedangkan posisi 2 dan 3 tidak begitu jelas antara Mega dan Wiranto. Namun posisi 4 sudah jelas untuk Amien Rais, dan posisi 5 untuk Hamzah Haz."SBY akan menghadapi tantangan berat pada putaran kedua. Tapi kemudian saya sesuaikan evaluasi saya berdasarkan fakta yang ada, hingga akhirnya saya simpulkan peluang SBY bahkan lebih baik dari apa yang pernah saya perkirakan," kata Guru Besar ekonomi-politik dari Northwestern University ini.Meski Partai Demokrat yang mencapreskan SBY hanya meraih 7 persen suara, namun menurut Winters, tingkat energi masyarakat dalam kampanye SBY sangat besar ketimbang kandidat lainnya.Kendati demikian, lanjut Winters, SBY memang lebih dikenal dan dipahami di perkotaan daripada di pedesaan. Tapi bukan berarti tidak ada kans. Sebab ada 2 kategori pemilih di Indonesia, yakni pemilih yang sangat loyal dan pemilih yang bisa diyakinkan."Jika ingin berhasil di putaran pertama, SBY harus meyakinkan pemilih kategori kedua. Jumlah pemilih kategori ini ada sekitar 30-40 persen," ujar Winters.Selain memiliki pengalaman di pemerintahan, Winters melihat bahasa tubuh SBY sebagai salah satu keunggulan penting. SBY tetap tenang, stabil, dan tidak mudah terpancing secara emosional meski berada di bawah tekanan."Jika mendapat banyak pertanyaan sulit dari wartawan, SBY dapat menjawab tanpa harus marah, meskipun pertanyaan itu menghina dirinya. Di AS, debat capres antara Kennedy dan Nixon merupakan contoh bagus. Setelah debat tersebut, masyarakat Amerika langsung bersimpati pada Kennedy. Sementara Nixon justru kehilangan dukungan," demikian Winters.
(sss/)











































