"Seseorang memiliki haluan garis keras karena pendidikan di kampus, saya kira tidak juga. Proses interaksi ketika seseorang menjadi radikal bukan di kampus, tapi di luar kampus," ujar peneliti Indonesian Institute for Civil Society (INCIS), Ace Hasan Syadzily, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (24/4/2011).
Ace curiga kelompok bergaris keras seperti teroris menginginkan kampus bisa menjadi pusat gerakan. Karena kalau gerakan terorisme punya landasan akademis, maka teroris akan lebih mendapat legitimasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, gerakan teroris belakangan ini muncul sebagai respons atas fenomena globalisasi. Di mana ada ketidakpuasan pada level internasional, karena merasa ada ketidakadilan ekonomi akibat globalisasi.
"Misal tindakan Amerika dan sekutu yang melakukan pemboman ke kelompok Islam, bisa memunculkan kekecewaan. Ini juga karena faktor internal dalam negeri, di mana situasi sosial ekonomi membuat frustasi sebagian kalangan, sehingga berpikir jalan pintas untuk menuju ke tujuan mereka," tutur Ace.
Ketika M Syarif, pelaku bom bunuh diri melakukan aksinya di masjid komplek Mapolresta Cirebon dua pekan lalu, maka tindakannya bisa dilihat sebagai upaya penyerangan simbol keamanan negara, yaitu kepolisian. Gerakan intensif pihak keamanan yang membatasi gerakan kelompoknya memunculkan ketidaksukaan.
"Ketika terorisme dibasmi setelah kejadian, maka menimbulkan reaksi seperti ini. Yang seharusnya dilakukan polisi adalah upaya preventif dan deteksi dini, apa yang membuat gerakan seperti ini muncul. Bukan saat ada kejadian lalu ada penangkapan besar-besaran," papar Ace.
Penangkapan besar-besarana, apalagi bila dilakukan dengan bumbu kekerasan, berpotensi menimbulkan bibit-bibit baru terorisme. Sebagai upaya pencegahan, menurut dia, ada baiknya bila pendidikan ideologi dan kenegaraan diberikan sejak awal.
"Kalau ini diberikan sejak awal dan konsisten, saya rasa seseorang tidak akan gampang terindoktrinasi dengan yang berhaluas keras. Selain itu, institusi pendidikan juga harus memberikan pendidikan yang lebuh inklusif, terbuka tentang negara dan nilai-nilai keagamaan," saran Ace.
Seperti diketahui, Pepi merupakan sarjana dari Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah angkatan 1997. Selepas dari bangku kuliah, Pepi menjadi wartawan sejumlah media infotainmen. Sikapnya yang cuek ditengarai berubah menjadi berhaluan keras setelah kembali dari Aceh.
Pepi sering pergi meninggalkan istrinya dengan alasan berladang menggarap lahan orang di Aceh.
(vit/nrl)











































