Dalam kesaksiannya, Amir mengaku, ketika masih menjabat sebagai Komandan Kodim, dirinya mewakili korpsnya pernah meminta kepada Syamsul, kendaraan operasional untuk mendukung kerjanya, dalam menjaga keamanan Langkat saat gejolak Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Dalam rangka, memelihara mobilitas patroli dan kemanan maka pada saat itu saya melapor pada pak bupati. Pak, apakah saya mendapat bantuan, saya bisa mendapatkan satu buah kendaraan dalam rangka untuk mendukung tugas-tugas," tuturnya di PN Tipikor, Jl Rasuna Said, Jaksel, Senin (18/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan, awalnya pihaknya memiliki uang senilai Rp 100 juta, dan diperuntukan pembelian mobil tersebut.
"Saya punya Rp 100 juta. Okelah begitu nanti saya bantu katanya (Syamsul)," ucap Amir.
Mobil kedua, lanjutnya, juga berdasarkan bantuan dana dari Syamsul. Untuk mobil kedua ini, untuk kepentingan rapat ke Korem dan ke Kodam.
"Kemudian beliau mengatakan masih ada berapa dana? Saya bilang Rp 100 juta, sama seperti pos yang pertama tadi. Maka dengan ditambahi saya mendapatkan kendaraan itu lagi," tuturnya.
Dua kendaraan yang ia dapatkan itu adalah Kijang LX dan Tafera, dimana dalam kapasitasnya sebagai Komandan Kodim, bukan pribadi. Lantas kedua mobil itu, ujar Amir, ia jual, demi peruntukan kepentingan Kodim.
(fjr/rdf)










































