Wiranto Dominasi Berita TV

Election Media Watch:

Wiranto Dominasi Berita TV

- detikNews
Kamis, 10 Jun 2004 12:09 WIB
Jakarta - Pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid (Gus Solah) mendominasi pemberitaan Televisi (TV). Pasangan itu mendapat liputan TV tertinggi dibandingkan pasangan lain.Demikian hasil monitoring Election Media Watch yang disampaikan Koordinator Program Election Media Watch, Irawan Saptono, di kantor Panwaslu, Jl. Rasuna Said, Jakarta, Kamis (10/5/2004). Selama 13 Mei hingga 2 Juni Election Media Watch lewat Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dan Koalisi Media untuk Pemilu Bebas dan Adil melakukan monitoring terhadap 10 stasiun TV. Kesepuluh TV yang dimonitoring itu yakni RCTI, TPI, ANTV, MetroTV, Indosiar, TransTV, SCTV, TVRI, TV7 dan Lativi. Monitoring dilakukan untuk program news, feature dan talkshow. Dari monitoring itu ditemukan pasangan Wiranto menempati porsi tertinggi liputan TV dengan jumlah 300 berita di 10 stasiun TV. Setelah pasangan Wiranto, menyusul pasangan Mega-Hasyim Muzadi dengan 267 berita.Baru kemudian pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla di posisi ketiga dengan 239 berita. Posisi keempat ditempati pasangan Amien Rais-Siswono dengan jumalh 218 berita. Dan terakhir pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar dengan 154 berita. Kurang KritisSelain didominasi berita Wiranto, media televisi juga kurang kritis dalam memberitakan pasangan capres dan cawapres. Televisi secara umum lebih banyak memberitakan sisi positif dan kurang menggali program kerja capres-cawapres"Televisi masih kurang kritis. Hal ini bisa dilihat dari penggambaran pasangan capres dan cawapres yang lebih banyak positif dari pada negatif," kata Irawan.Hasil monitoring itu menunjukan umumnya pemberitaan TV terfokus pada orasi capres dan cawapres yang ingin mensejahterakan rakyat serta dukungan yang sifatnya positif dari simpatisan mereka."Televisi kurang dapat menggali lebih dalam pikiran, platform dan program kerja kongkret capres. Pertanyaan yang diajukan dalam sejumlah acara di TV lebih bersifat normatif sehingga bisa dijawab dengan normaif pula. Bahkan ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab dengan satu jawaban," kata Irawan. (iy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads