"Dari enam wilayah yang terserang ulat bulu, ada tiga jenis, yaitu jenis A, B, dan C. Dari tiga jenis itu, ada jenis yang menyebabkan gatal-gatal dan yang tidak gatal-gatal. Sisanya masih diteliti," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali Made Putra Suryawan di Balai Proteksi Tanaman Pangan VII, Denpasar, Jl Pandjaitan, Denpasar, Rabu (23/3/2011).
Tiga jenis ulat bulu tersebut, memiliki warna yang berbeda, yaitu coklat, coklat muda, dan hitam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Kabupaten Buleleng, kita baru memasuki kebun mangga. Belum memegang ulat bulu saja sudah gatal-gatal," kata Sudana.
Sudana menambahkan, sampel ulat bulu yang ditemukan di Kabupaten Buleleng, Jembrana, Karangasem, Klungkung, Gianyar dan Kota Denpasar, itu akan diteliti di laboratorium Universitas Udayana (UNUD). "Dalam satu pekan akan diketahui hasilnya," ujar Sudana.
Sudana menjelaskan, pihaknya memberikan tips membasmi ulat bulu agar populasinya tidak bertambah di suatu wilayah. Jika menemukan ulat bulu yang masih melekat di batang pohon harus segera dibakar sebelum menyerang daun. Namun, jika sudah menyerang daun, harus disemprot pestisida.
UNUD, lanjut Sudana, akan menerjukan tim ahli untuk meneliti dan menangani hama yang merebak di Bali itu. Tim ahli tersebut, yaitu ahli penyakit serangga, ahli serangga, ahli ekologi, dan ahli iklim biopestisida. Mereka juga akan mengambil dan meneliti sampel ulat bulu yang menyerang Probolinggo, Jawa Timur.
"Kita akan berupaya, mudah-mudahan tidak meledak. Sehingga tidak menjadi hama yang membahayakan pertanian dan masyarakat," tutup Sudana.
(gds/nik)