Lian Beruntung Hanya Linglung, Banyak Korban Cuci Otak yang Gila

Lian Beruntung Hanya Linglung, Banyak Korban Cuci Otak yang Gila

- detikNews
Rabu, 13 Apr 2011 09:47 WIB
Lian Beruntung Hanya Linglung, Banyak Korban Cuci Otak yang Gila
Jakarta - Laila Febriani (26) alias Lian, CPNS Kementerian Perhubungan yang sempat hilang, boleh dibilang masih beruntung. Ibu satu anak itu hanya linglung. Sementara banyak korban cuci otak lainnya yang depresi dan gila.

"Banyak korban yang depresi dan bahkan ada yang benar-benar gila," kata Ketua Tim Rehabilitasi NII Crisis Center Sukanto saat berbincang dengan detikcom, Rabu (13/4/2011). NII Crisis Center dibuat sebagai sarana informasi tentang maraknya korban NII KW9.

Pria yang akrab disapa Anto ini mengatakan, para korban yang akhirnya gila itu bisa saja karena penanganan yang salah. Saat ditemukan dalam kondisi linglung, korban langsung didoktrin oleh orang tuanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal saat itu kondisi mereka secara psikologis kan labil, jadi makin didoktrin mereka makin bingung. Maka mereka depresi dan akhirnya gila," kata Anto yang pernah menjadi camat di NII ini. Sekadar diketahui, organisasi NII adalah negara dalam negara, yang memiliki struktur mulai ketua RT, lurah, camat, hingga level atas.

Kondisi lain yang menyebabkan para korban gila terjadi bila si korban keluar organisasi tertentu misalnya NII tidak atas kemauannya sendiri. Mereka akan menjadi ketakutan dan bahkan akan menutup diri dari dunia luar.

"Mereka ketakutan sendiri, nggak berani keluar rumah, halusinasi dan macam-macam. Akhirnya depresi, ini yang berbahaya," kata Anto. Selama ini Anto telah menangani ratusan korban cuci otak dalam wadah NII Crisis Center. Beberapa di antaranya depresi berat.

Sementara itu pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengaku mendapatkan puluhan laporan setiap harinya. Kebanyakan mereka adalah korban atau orang tua korban yang merasa anaknya telah memiliki kegiatan yang 'menyimpang'.

"Jadi kita bantu mereka untuk rehabilitasi, silakan kontak kami jika ada masyarakat yang merasa menjadi korban cuci otak semacam ini," kata Ken.

(ken/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini