Buka Kasus 27 Juli, Mega Konsolidasikan Suara Nasionalis

Buka Kasus 27 Juli, Mega Konsolidasikan Suara Nasionalis

- detikNews
Rabu, 09 Jun 2004 12:17 WIB
Jakarta - Mega dinilai melakukan konsolidasi suara di tubuh PDIP sendiri dan suara nasionalis yang terpecah dengan membuka kasus 27 Juli (kudatuli). Ini merupakan kampanye negatif."Maksud politik yang paling jelas di mata saya, Mega ingin melakukan konsolidasi suara di tubuh PDIP sendiri. Apalagi dengan majunya Amien-Siswono yang menarik suara nasionalisme murni dari PDIP. Ini cukup membahayakan. Ini taktik untuk konsolidasi suara untuk mengambil suara nasionalis yang terpecah itu."Demikian analisa Guru Besar Fisipol UGM Riswandha Imawan di sela-sela acara 'Dialog Kebangsaan II' di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (9/6/2004).Dia mempertanyakan kenapa ketika masuk akhir kampanye kasus itu baru dibuka lagi. Padahal Mega sudah sejak lama diminta warganya segera mengungkap kasus kudatuli."Ini sama dengan kasus fatwa para kiai yang menyatakan haram memilih presiden perempuan. Kenapa ini muncul, sehingga tidak bisa dihindari ada maksud-maksud politis di balik itu," kata Riswandha.Apa mungkin Kapolri di-set up Mega? tanya wartawan. "Kalau mungkin, iya. Karena Kapolri itu di bawah Mega. Tapi apa sesimpel itu? Apalagi kemudian mekanisme defensif-nya SBY lumayan kuat," ujarnya.Menurut Riswandha, yang paling baik bagi Mega atau capres siapapun juga, kalau mereka menyatakan menghindari kampanye negatif, dan benar-benar melakukannya. Jadi biarkan masyarakat mengingat apa yang terjadi.Pengungkapan kasus kudatuli termasuk kampanye negatif? "Ya iya dong, kalau itu dimunculkan sekarang. Kenapa Mega tidak sekalian saja mengusut kasus HAM di Timtim, atau kasus penyelewengan uang yang melibatkan orang-orang di bawah para capres tersebut," tandas Riswandha. (sss/)


Berita Terkait