"Reaksi NATO sangat lamban," kata Jenderal Abdel Fattah Younes, pemimpin militer pemberontak Libya seperti dilansir kantor berita Reuters, Rabu (6/4/2011).
"Satu pejabat menelepon lainnya dan kemudian dari pejabat itu ke kepala NATO dan dari kepala NATO ke komandan lapangan. Ini makan waktu delapan jam," cetus mantan Menteri Dalam Negeri Libya yang membelot ke kubu pemberontak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misrata sedang mengalami pemusnahan total," ujar Younes. "NATO membombardir di sana-sini dan membiarkan warga Misrata mati setiap hari. NATO telah mengecewakan kami," cetusnya.
Menurut Younes, pihaknya selalu memberitahu NATO tiap kali mereka mendapat info bahwa pasukan Khadafi sedang bergerak menuju kota yang dikuasai pemberontak. Namun reaksi NATO sangat lamban.
Younes pun mengancam akan meminta Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan misi NATO di Libya jika aliansi militer tersebut tidak bekerja sebagaimana mestinya.
(ita/nrl)











































