Diancam Bom, Operasional KCU Lippo Solo Terhenti 2 Jam
Jumat, 04 Jun 2004 16:38 WIB
Solo - Teror bom dengan modus telepon gelap kembali terjadi. Kali ini yang menerima teror adalah Wisma Lippo yang menjadi kantor cabang utama (KCU) Bank Lippo di Jl. Slamet Riyadi, Solo. Akibatnya seluruh karyawan dan nasabah yang berada di dalam gedung dievakuasai. Sedangkan operasional berhenti sekitar 2 jam.Kabag Operasional Bank Lippo Solo, Kelik Sugianto, memaparkan ancaman itu datang dari sebuah telepon gelap pada hari Jumat (4/6/2004) sekitar pukul 13.30 WIB. Suara seorang lelaki dalam telepon itu mengancam sebanyak dua kali yang diterima karyawan bagian Valas.Dalam telepon pertama, si lelaki mengancam bahwa sebentar lagi gedung Wisma Lippo akan meledak. Selanjutnya bahkan menyebut sekitar 15 menit lagi gedung akan meledak. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah beberapa saat setelah pihak keamanan di gedung itu menerima sebuah paket kecil yang terbungkus plastik hitam dililit lakban putih.Akhirnya pihak Lippo segera melaporkan ke polisi. Selanjutnya puluhan karyawan Bank Lippo dan para nasabah yang saat itu sedang berada di dalam gedung langsung dievakuasi. Tidak seberapa lama polisi dari Polresta Surakarta bersama Tim Jihandak Brimob, Tim Gegana langsung dan Tim Satwa datang melakukan penyisiran seluruh ruangan gedung empat lantai itu.Tim Jihandak juga melakukan pemeriksaan terhadap sebuah paket mencurigakan yang diterima oleh pihak Bank Lippo itu. Setelah diperiksa sekitar lima belas menit, Jihandak menemukan bungkusan itu berisi dua buah handphone dan sebuah mesin sejenis repeater. Sedangkan satuan Gegana yang melakukan penyisiran ke seluruh ruangan dengan metal detector menyimpulkan tidak hal yang mencurigakan.Setelah dinyatakan aman, seluruh karyawan Bank Lippo dipersilakan untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun tidak lama setelah masuk gedung, para karyawan ini segera keluar dari gedung lagi karena memang sudah memasuki jam usai pulang.Kapolresta Solo, AKBP Lutfi Lubhianto, yang memimpin langsung penyisiran di lokasi mengatakan kepolisian tidak berani berspekulasi sehingga langsung menerjunkan Jihandak dan Tim Gegana Anti-Teror untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Pihaknya juga akan melakukan penyelidikan lebih jauh untuk mengungkap penelepon gelap yang telah melakukan teror tersebut."Mungkin bisa saja si penelepon punya konflik, tetapi tidak tertutup kemungkinan teror semacam ini berkaitan dengan situasi politik menjelang pilpres. Kami juga menyarankan agar pihak-pihak perusahaan memasang alat perekam pembicaraan telepon, untuk mempermudah penyelidikan jika terjadi hal seperti ini," ujarnya.
(asy/)











































