"Kemungkinan dia shock, kalau sehari-hari biasanya dia menghirup udara bebas, kemarin-kemarin dia dibatasi ruang geraknya," kata Kepala Pelayanan Dokpol RS Polri, Kombes Mas Ibnu Hajar, saat ditemui di ruang kerjanya, Jl Rumah Sakit, Kramatjati, Jakarta Timur, Kamis (24/3).
Putri dirujuk ke RS Polri oleh Polda Metro Jaya, Rabu (23/3) siang. Sebelumnya Kedokteran Polisi (Dokpol) menyatakan kondisi mendiang Presiden Soeharto tersebut tidak memungkinkan untuk diperiksa karena dalam kondisi sakit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penanganan yang dilakukan pihaknya adalah dengan mengkonsultasikan kesehatan fisik Putri dan juga kejiwaan yang ditangani psikiater.
"Rekan-rekan dokter spesialis yang ada di situ kita libatkan semua," jelasnya.
Dia menambahkan, meski Putri adalah cicit mantan pemimpin negara, pelayanan yang diterimanya sama dengan pelayanan pasien lainnya.
"Penanganan standar. Enggak mungkin kita bedakan apakah dia putra ini putra itu, SOP-nya standar orang sakit lah," tegas Mas Ibnu.
Di tempat sama, kuasa hukum Putri, Sandy Arifin membantah jika Putri dirujuk ke RS Polri karena ketagihan narkotika yang dikonsumsinya.
"Bukan (ketagihan), karena memang ada penyakit serius," ujar Sandy.
Dia melihat kondisi Putri mulai menurun sejak dua hari diperiksa Penyidik Kepolisian.
"Dari awal kami mendampingi keadaan fisik dan psikologis sudah mulai terlihat menurun. Finalnya hari kedua pada saat pemeriksaan Mabes Polri, darah tensinya sangat rendah sekali," papar Sandy.
Putri tertangkap tengah mengkonsumsi sabu pada Jumat (19/3) dini hari lalu di Hotel Maharani, Mampang, Jakarta Selatan. Bersama dia, ditangkap pula perwira menengah Polri AKBP Eddie Sutiono dan seorang pengedar berinisial GN.
(ahy/mok)










































