"Keluarga tidak menyangka, saya kaget dan shock, tapi kita ikuti hukum yang berlaku," kata Angga saat ditemui detikcom di rumahnya, Jl Kebon Manggis II, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (24/3/2011).
Angga menjelaskan, setelah Agnes tewas, dia merasa ada yang janggal dengan ibunya sehingga dia merasa curiga. Kecurigaan muncul saat melihat HP yang biasa digunakan oleh N. Menurutnya, N tidak terlalu mengerti teknologi. Bahkan untuk membaca SMS saja harus dibacakan. N juga tidak bisa menghapus SMS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dimintai keterangan oleh polisi, N mengaku HP itu dipinjamnya dari rekannya yang bernama Susan. Namun saat dimintai keterangan oleh polisi, Susan membantahnya.
"Dia tidak pernah meminjamkan HP-nya," lanjut Angga dengan suara perlahan.
Angga menuturkan, N pernah memberikan bed cover kepada Susan. Ternyata bed cover itu digunakan untuk menyimpan jenazah Agnes.
"Waktu itu bed covernya kotor sehingga ibu mencucinya di rumah Susan," sambungnya.
Agnes dibunuh di rumahnya, di Jalan Raya Sirsak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saat itu, Agnes baru pulang sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Jenazah Agnes ditemukan di selokan Jl Joe, Jagakarsa, tak jauh dari rumahnya pada Minggu, 13 Februari.
Ibu Agnes, N, diduga menjadi otak pembunuhan itu. S, yang menjadi eksekutor pembunuhan itu adalah anak angkat N. S dibantu oleh temannya, U.
(nal/vta)










































