"Saya diundang KPP (Kantor Kesehatan Pelabuhan). Ini (pelatihan) untuk menyebarluaskan kepada publik dan kesempatan kita untuk mengedukasi," kata Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman.
Hal itu disampaikan As Natio saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/3/2011) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana kita mendeteksi secara awal apabila ada orang yang terkena radiasi itu kan bisa kita hindari sebelum menyebar," jelasnya.
As Natio mengatakan, sejauh ini Bapeten ikut membantu Kementerian Kesehatan melakukan scanning terhadap penumpang pesawat yang berasal dari Jepang. Banyak tahapan yang harus dilakukan dan dimengerti oleh petugas sebelum melakukan tindakan.
"Selain deteksi dengan alat scanning, kita juga melakukan penanganan. Kalau terdeteksi dari luar-maka kita berpraduga bahwa orang tadi tidak hanya luar, tapi dalamnya juga (terdeteksi).
Tidak berarti, seseorang yang terkontaminasi radiasi pada permukaan luar juga terkena hingga ke dalam tubuhnya. "Luasnya permukaan tubuh terhadap masuknya zat radio aktf, hidung atau mulut. Sekian persen," paparnya.
Air
As Natio juga mengomentari bahaya air minum di daerah Jepang yang sudah terkontaminasi radiasi nuklir bagi bayi. Menurutnya, dalam takaran tertentu radiasi air minum bisa berdampak pada sang bayi.
"Tapi tidak berdampak langsung. Nanti setelah bertahun-tahun baru kelihatan (dampaknya)," tandasnya.
Sementara untuk orang dewasa, air minum yang terkontaminasi tidak terlalu berpengaruh. "Karena orang dewasa self defense-nya kan lebih kuat," tandasnya.
(ape/feb)










































